Sebelum Menikah, Bicarakan Hal-hal Urgent Ini dengan Calon Pasangan




Kenapa banyak orang yang setelah menikah justru kecewa karena merasa pasangannya saat ini berbeda jauh dengan yang mereka kenal sebelum menikah? Atau jangan-jangan sebenarnya yang ditampakkan sebelum menikah justru bukan sifat asli mereka dan baru kelihatan setelah pernikahan?
Bagi sebagian orang, hanya karena sungkan kepada calon pasangan, akhirnya tidak mau membicarakan dan mendiskusikannya. Tapi belakangan, setelah semua masalah rumah tangga mengacaukan semua mimpi indah tentang pernikahan itu, barulah menangis menyesal dan mulai mencari solusi.
Untuk itu sebelum terlambat dan memutuskan menikah, bicarakan hal-hal urgent ini dengan calon pasanga Anda:
  1. Sudah tahukah anda masing-masing hak dan tanggung jawab setelah menikah nanti? Siapa yang akan mencari nafkah, berdua atau suami saja? Lalu, bagaimana kalau istri ingin ikut bekerja sebagai bentuk aktualisasi diri?
  2. Diskusikan mengenai prosesi pernikahan. Apakah hanya syukuran atau akan diadakan pesta? Kalau iya, bagaimana dengan pembagian biaya resepsinya?
  3. Berterus teranglah kepada calon pasangan tentang utang yang saat ini sedang ditanggung, jangan sampai setelah menikah baru mengaku. Anda juga bisa menanyakan hal yang sama tentang utang yang sedang dia tanggung.
  4. Perlu kah untuk saling terbuka mengenai pendapatan? Sangat perlu. Ini bisa jadi masalah besar di kemudian hari jika tidak terus terang dari awal. Sering orang yang kelihatan punya karir dan jabatan bagus di sebuah perusahaan besar, ternyata gajinya tak seperti yang dibayangkan.
  5. Apakah anda saat ini jadi tulang punggung keluarga dan memberikan sebagian besar gaji untuk membantu keluarga? Atau ada anggota keluarga yang wajib dibantu setiap bulan seperti uang sekolah adik atau keluarga yang mengidap menyakit yang harus rutin berobat? Perlu dibicarakan dulu nih pada calon pasangan, setelah menikah nanti mau seperti apa, berapa persen pendapatan anda yang akan tetap dialokasikan untuk membantu.
  6. Setelah menikah tinggal dimana? Ada saja masalah yang mungkin timbul ketika tinggal serumah dengan mertua. Jika terpaksa harus tinggal di rumah mertua, sampai kapan? Sudahkah disepakati dari awal?
  7. Calon pasangan minta melakukan tes kesehatan sebelum menikah, kenapa tidak? Bukan untuk meragukan, tapi kita bisa bersiap antisipasi lebih dini untuk segala kemungkinan.
  8. Setelah menikah, apakah ingin langsung punya momongan, atau menunda dulu karena suatu hal?
Mungkin masih ada hal-hal lain yang mengganjal tentang diri pasangan, baiknya hal tersebut dibicarakan sebelum jauh ke jenjang pernikahan. Tidak perlu gengsi, takut dibilang matre atau banyak syarat, tapi 8 hal di atas sangat urgent untuk dibicarakan dengan calon pasangan. 

Sebelum terlambat, upayakan yang terbaik untuk pernikahanmu karena itulah masa depan dunia dan akhiratmu :)

-dari berbagai sumber

Berhaji di Usia Muda, Why Not?

Sejauh ini, jamaah haji dari Indonesia dipenuhi oleh orang-orang lanjut usia. Jarang sekali ditemui jemaah yang usianya masih muda. Beragam alasannya; mulai dari faktor kemapanan, mendahulukan rukun Islam lainnya, sampai ada yang memang belum diniatkan. Padahal, berhaji di usia muda memiliki keunggulun dari segi kesehatan dan kekuatan sehingga ibadah haji menjadi lebih maksimal. Jadi, siapa bilang berhaji itu harus nunggu tua? Yuk niatkan dan persiapkan segala sesuatunya dari sekarang, cek beberapa poin yang perlu dipersiapkan agar kita dipilih menjadi salah satu tamu-Nya.
1. Niat ikhlas untuk berhaji
Niat untuk beribadah haji harus dimulai dari sekarang. Meskipun ibadah haji diiringi dengan kata-kata “jika mampu”, bukan berarti jika tidak ada uang kewajiban haji langsung gugur, dan bukan berarti juga ketika empat rukun Islam lainnya belum dilaksanakan maka rukun kelima jadi tidak wajib dilakukan. Intinya kita harus terus memperbaharui niat dan keyakinan untuk berhaji sebelum ajal tiba.
2. Azzam untuk meraih surga melalui ibadah haji
Ibadah Haji merupakan salah satu ibadah yang di dalamnya bertaburan sarana untuk menghapus dosa dan meraih surga. Karena itu, jangan sampai azzam kita kendur untuk melaksanakannya.
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW pernah ditanya,”Amal apakah yan paling utama?”. Rasul menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Kemudian apa?”, “Jihad di Jalan Allah”, “Kemudian apalagi?”, “Haji Mabrur”.
3. Perbanyak wawasan tentang pentingnya haji
Pengetahuan seputar ibadah haji, sebaiknya dicicil sejak dini sehingga perlahan akan masuk dan membentuk pemahaman yang kokoh dalam diri kita. Wawasan ini perlu untuk menjaga keikhlasan niat dan tekad kita untuk berhaji. Pengetahuan tentang haji bisa kita dapatkan dengan membaca buku maupun artikel di situs-situs Islam.
4. Tarik pertolongan Allah melalui ibadah yang maksimal
Jika Allah melihat kesungguhan kita untuk berhaji, insya Allah kemudahan haji yang tidak disangka-sangka Ia berikan untuk kita tunaikan. Kesungguhan ini bisa kita lakukan melalui ibadah di luar haji yang nilai pahalanya tidak kalah besar. Antara lain; Sholat tepat waktu, qiyamul lail, berbakti pada orang tua, dan sedekah, yang sangat dicintai Allah jika kita kerjakan.
5. Menabung dari harta yang halal
Jangan berpikir bahwa biaya haji yang mahal tak mungkin terjangkau oleh kantong kita yang anak sekolah/mahasiswa. Allah Maha Kaya, Ia bisa saja memberangkatkan kita ke Rumah-Nya tanpa meminta biaya sedikitpun dari kita. Rahasia ibadah haji seringkali di luar batas logika manusia. Banyak orang yang pergi haji karena diberangkatkan oleh perusahaannya, diongkosi oleh dermawan, menang melalui undian yang halal, mendapat warisan, dan sebagainya. Kalau Allah punya kehendak, siapa yang akan menghalangi?
6. Doa di waktu dan tempat yang Mustajab
Segala inti dari ibadah adalah doa, dan doa adalah senjata kaum muslimin. Jika kita ingin memenunaikan ibadah haji selagi muda, jangan sia-siakan meminta di waktu mustajabnya doa, yaitu ketika berpuasa, musafir, dizalimi, selepas adzan, antara iqamah dan sholat, antara dua khutbah jumat, waktu sahur, waktu hujan, dan sepertiga malam. Dan jangan sia-siakan pula hari diijabahnya doa seperti hari jumat, hari arafah, malam dan hari raya, malam lailatul Qadar, malam nisfu Sya’ban, dan awal rajab.
Maksimalkan ikhtiar dan azzamkan dalam hati; Berhaji di usia muda, why not?

dari berbagai sumber

Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran

Oleh: Benny Arnas

Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Menahan hawa nafsu.

Mereka harus belajar tak makan-minum seharian. Memaknai bahwa rumahtangga sejatinya bangunan kerontang. Ia bukanlah supermarket yang bernama kebahagiaan. Ia adalah gudang makanan yang kosong dari persediaan. Mereka bukan harus mengambil darinya, namun justru mengisinya, untuk dibawa ke kapal asmara yang sudah ditaut di pelabuhan cinta.

Mereka makan ketika dibutuhkan, mereka minum ketika haus saja. Makan pun taklah boleh terlampau banyak.Tak elok kekenyangan. Alih-alih membuat badan bertenaga, alih-alih menambah semangat bekerja; namun justru membuat rasa malas kian betah. Minum pun jangan sampai membuat perut kembung. Alih-alih menghilangkan haus, namun justru menyebabkan sakit perut. Ya, makanlah sebelum lapar, dan minumlah sewajarnya. Maka, rumahtangga akan dirasai sebagai bahtera yang lunas berlayar bila sesiapa yang ada di dalamnya mampu mengatur persediaan makanan dengan baik, mampu menggunakannya secara tak berlimpah.

* * * 

Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran!
Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Menahan hawa nafsu.


Mereka harus belajar tak melampiaskan amarah seharian. Memaknai rumahtangga sejatinya kebahagiaan yang diciptakan. Mereka harus sabar menenggang segala salah, silap, dan dosa, yang sangat mungkin dilakukan oleh masing-masing pihak, lalu melukai masing-masing pula, lalu bersemayamlah tungku kebencian yang awalnya adalah kesal-kesal manja, lalu tanpa disadari masing-masing menyiramnya dengan minyak kecemburuan, lalu mereduplah api asmara karena dilumat bara asmara yang menyala-nyala (benci menjadi dengki, cemburu menjadi ragu). Bila tak segera dimatikan, maka rumah kebahagiaan hanya tinggal impian. 
Bila tak ingin menghadapinya, keselarasan berumahtangga bagai jempol dalam isapan. Maka, bila mencintai, cintailah sekadarnya. Bila membenci, bencilah sekadarnya.


* * * 

Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Memaknai waktu mengolah amanah.



Mereka harus belajar tak membuang waktu percuma di malam punai. Memaknai bahwa berumahtangga sejatinya tentang kecakapan mengolah amanah. Maka, mereka bertadarus. Mengaji bersama-sama. Menyelesaikan juz demi juz. Mengkhatamkan Al Qur’an. Semuanya tak hanya dianggap sebagai lelaku jamaah. Lebih dari itu, mereka memaknainya sebagai tanggungjawab yang menyenangkan. Bila kehidupan rumahtangga sudah diserakkan oleh onak dan duri, mereka memungutnya. Bersama-sama.Ya, percintaan adalah kitab suci dengan halaman tak berbatas. Mereka mesti membacanya bila ingin merayu Tuhan agar Dia senantiasa melimpahkan karomah. Mereka akan selalu mengkajinya demi melunaskan penasaran; kapan juz 30 berlabuh?.Selalu. Sampai bila-bila.

Karena mereka tak tahu, di mana surat Al Ikhlas bersemayam demi melafalkan kalimat bahwa Ia Mahabenar dengan Segala Firman. Mereka akan tahu bila tiba-tiba Israil tersenyum dan bilang, “maaf, sudah saatnya kalian pulang” dengan santun dan suara yang halus. Ketika itu mereka tiba-tiba berada di lembar terakhir mushaf. Mereka tutup Al Quran. Tadarusan tunai.

* * * 

Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Mengeja cinta dengan berbagi.

Mereka harus belajar tak membuang waktu percuma seharian. Memaknai bahwa berumahtangga sejatinya tentang memberi. Mereka bayar zakat. Mereka perbanyak sedekah. Tentu mereka tahu, betapa masih banyak anak-anak jalanan, janda-janda fakir, dan orang-orang papa, yang terlantar, yang kehadirannya bagai disengaja Tuhan untuk melihat apakah mereka bersedia memberi atau tidak sama sekali. 

Maka, berumahtangga bukan hanya usaha menggunungkan kebahagiaan. Namun juga usaha mengikisnya perlahan-lahan. Memberikan sebagian kesemringahan agar yang lain jua merasakan nikmatnya kehidupan. Gunung takkan menjadi lembah bakda meletus, bukan? Kebahagiaan takkan sirna ketika berbagi, bukan?

* * *
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran!

Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Memaknai waktu sebagai lembaran obituari.Mereka harus belajar mengingati diri. Bahwa hidup akan bermuara pada pilihan yang dimaklumatkan jauh-jauh hari. Jannah atau jahim. Surga atau neraka. Mereka mengunjungi rumah-rumah mungil yang ditandai papan atau batu kembar. Di sana, di peraduan anggota keluarga mereka (atau juga teman dekat mereka) yang telah menyatu dengan tanah, dengan semua peritabiat yang sedikit-banyak diketahui, mereka akan mengira-ngira; ketika Munkar-Nakir menanyainya tentang Tuhan, rasul, agama, kitab suci, kitab suci, apakah ia kuasa menjawabnya, atau justru gada-bara akan menghantam kepalanya! Maka, rumahtangga adalah titi untuk menggapai impian hakiki itu. Salah-salah melewatinya, akan terjerengkang di sungai api.

Ah, lupakanlah itu! Mereka memejamkan mata sejenak. Salah satu dari mereka pun melafalkan serentetan kata keramat yang telah dihafal mati-matian sebelum ketib, penghulu hadir di hadapan mereka berdua. Oh, bukankah sebuah kebahagiaan tak terkias ketika mendapati iman telah genap (hanya) dari sebuah pernikahan yang akan menunaskan keberkahan demi keberkahan dalam istana yang bernama keluarga? “Bagaimana saksi-saksi?” “Sah?” “Sah!”

* * * 

Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Memperlakukan waktu sebagai amalan.

Mereka harus belajar tak membuang waktu percuma di malam punai. Memaknai bahwa rumahtangga sejatinya tentang kecakapan mengolah kemesraan. Mereka bertarawih di malam-malam yang senantiasa penuh berkah. Beribadah bersama-sama. Menikmati semuanya. Sebagaimana mereka mesti meyakini, mereka adalah pasangan yang akan bersama dalam waktu yang lama, sangat lama, selama-lamanya. Maka, bila merasa jenuh mengunjungi masjid kampung, mereka bersafari ke rumah Tuhan-rumah Tuhan yang lain di kampung tetangga. 

Bila mereka merasa bosan dengan kebersamaan yang berlaku selama ini, maka pergilah mereka ke tempat-tempat yang indah. Tempat-tempat di mana berbotol-botol air cinta siap dibawa pulang. Sesampai di rumah, mereka siram pohon-pohon kemesraan yang hampir layu dan mati.Mereka pun menunggu sembari selalu menyiraminya. Berdua saja. Sambil tersenyum dan bercubit-cubitan mesra. Sampai akhirnya pohon-pohon itu berbuah. Biji-bijinya jatuh satu per satu. Bertunas-tunas. Tanpa mereka sadari ada yang berbeda setelah sekian lama:

“Ah, anak-anak kita sudah besar, ya!” ***


* Lubuklinggau, di ujung Juli 2010

5 Ciri Kecantikan Pribadi Muslimah

Setiap wanita senantiasa mendambakan kecantikan fisik. Tetapi ingat, kecantikan dari dalam yang lebih dikenal dengan istilah inner beauty adalah hal yang lebih penting daripada kecantikan fisik. Karena apa gunanya seorang muslimah cantik fisik tetapi tidak memiliki akhlak terpuji. Maka dari itu kecantikan dari dalam memang lebih diutamakan untuk menjaga citra diri seorang muslimah.

Menjaga kecantikan dari dalam berarti menjaga etika dan budi pekerti baik, serta menggunakan anggota tubuh untuk hal-hal yang baik berdasarkan sudut pandang syariat Islam. Berikut ciri kecantikan pribadi muslimah :

Artikel_5 Ciri Kecantikan Pribadi Muslimah 

1. Lisan
Allah dengan tegas menyatakan bahwa antara ciri hamba-Nya yang baik adalah mereka yang baik ucapannya. Seperti yang tercantum dalam surat Al-Furqan ayat 63, yang artinya “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang- orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.”

Termasuk dalam hal ini adalah menjauhi perbuatan ghibah (membicarakan keburukan orang lain). Maka hendaknya para muslimah memperhatikan apa-apa yang diucapkan. Bila setiap wanita muslim mampu menjaga lisan dari mengganggu atau menyakiti orang lain, insya Allah mereka akan menjadi seorang muslimah sejati. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim bahwa Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Seorang muslim sejati adalah bila kaum muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

2. Mata
Demikian pula dengan anggota tubuh lainnya seperti mata. Untuk menjadikan sepasang mata yang indah, maka pandanglah kebaikan-kebaikan dari orang-orang, jangan mencari-cari keburukan mereka. Allah berfirman mengenai hal ini disurat al-Hujurat ayat 12, artinya “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”

Hal terpenting lainnya adalah, pergunakan mata untuk hal-hal yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. Hal ini berarti tidak menggunakan mata untuk bermaksiat. Pandangan mata adalah mata air kemuliaan, bukan menjadikannya duta nafsu syahwat sesaat.

3. Telinga
Lalu peliharalah telinga dari mendengarkan musik yang melemahkan jiwa, gosip, kata-kata keji dan sesat, atau menyebutkan kesalahan-kesalahan orang. Telinga diciptakan untuk mendengarkan Kalam Allah dan instruksi-instruksi Rasulullah. Sepasang telinga yang indah dan baik adalah yang bisa mengambil manfaat ilmu-ilmu keislaman.

4. Tangan
Selanjutnya tangan, tangan yang baik adalah tangan yang diulurkan untuk membantu dan menolong sesama muslim, serta bersedekah dan berzakat. Kita diberi dua tangan; satu untuk membantu kita dan satu lagi untuk membantu orang lain. 

Maka, jaga baik-baik kedua tangan, jangan dipergunakan untuk memukul orang lain, jangan dipakai untuk mengambil barang haram ataupun mencuri, jangan dipergunakan untuk menyakiti makhluk ciptaan Allah, atau untuk mengkhianati titipan atau amanah. Atau pun untuk menulis kata-kata yang tidak diperbolehkan.

5. Kaki
Kemudian kedua kaki yang indah adalah yang dipergunakan untuk mendatangkan keridhaan Allah. Jagalah kedua kaki untuk tidak berjalan menuju tempat-tempat yang diharamkan. Karena hal itu adalah kemaksiatan yang besar dan sama saja dengan merendahkan diri muslimah. 

Lalu jangan sekali-kali mempergunakan kaki untuk menyakiti saudara-saudari muslimah, pergunakanlah untuk berbakti kepada Allah, misalnya dengan mendatangi masjid, tempat-tempat pengajian, berjalan untuk menuntut ilmu agama serta menyambung tali silaturahim, atau melangkahkannya untuk berjihad di jalan-Nya.

Demikian pula dengan segenap anggota tubuh lainnya. Semua akan nampak indah serta mempesona apabila dipergunakan dalam rel ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kecantikan fisik seorang muslimah bahkan sangat dipengaruhi kecantikan batin. Untuk mendapatkan tubuh yang ramping, maka cobalah untuk berbagi makanan dengan orang-orang fakir-miskin.

Maka jadikan malu karena Allah sebagai perona pipinya. Zikir yang senantiasa membasahi bibir adalah lipstiknya. Kacamatanya adalah penglihatan yang terhindar dari maksiat. Air wudhu adalah bedaknya untuk cahaya di akhirat. Kaki indahnya selalu menghadiri majelis ilmu. Tangannya selalu berbuat baik kepada sesama. Pendengaran yang ma’ruf adalah anting muslimah. Gelangnya adalah tawadhu. Kalungnya adalah kesucian, dan seluruhnya dibalut oleh hijab sebagai perisai bagi kehormatanya.

SFJ
Source: kultum.net 

Sepucuk Surat Kecil untuk Muslimah


Muslimah, pernahkah kamu merasakan kesedihan yang teramat dalam? Sehingga rasanya seperti tak punya harapan lagi. Lalu bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang kita sayangi? Mungkin saking sedihnya kita bisa meratap dan berdiam diri berhari-hari.

Tapi seiring berjalannya waktu, kita tidak bisa stuck dengan kondisi tersebut. Pikiran kita akan tumbuh, perasaan pun akan berubah. Jika demikian halnya, maka mengapa kita biarkan diri tenggelam dalam kesedihan, sedangkan pada akhirnya itu semua akan menjadi masa lalu? Tersenyumlah Muslimah, karena ada sepucuk surat kecil untukmu yang akan membuatmu berfikir lebih positif. Mari kita renungkan baik-baik….

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti
Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa tidak dinikmati saja
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa

Jika luka kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama
Jika benci dan marah akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti diumbar sepuas rasa
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya
Sedang taubat itu lebih utama
Jika harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri
Sedang kedermawanan justru akan melipatgandakannya

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti membusung dada
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia
Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka megapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama
Sedang memberi akan lebih banyak memiliki arti

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna
Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta

Yakinlah Muslimah, ketika waktu terus berjalan dan semua itu telah berlalu, kita akan melihat dengan pandangan berbeda. Bisa jadi, kesedihan yang dirasakan saat itu ternyata tidak semenyedihkan yang kita kira. Dan mungkin saja kita akan menyadari kemarahan dan kebencian saat itu tidaklah beralasan. Atau barangkali kesalahan yang pernah dilakukan akan membuat kita lebih menghayati kebenaran. Tersenyumlah, karena semua yang kita rasakan hari ini, akan menjadi menjadi masa lalu pada akhirnya.

SFJ
source: Catatan Seorang Ukhti

Tulisan ini dimuat di http://media.zoya.co.id/inspirasi/sepucuk-surat-kecil-untuk-muslimah 

Aisyah, Sosok Teladan Muslimah Dunia

Apabila ada sebuah permasalahan yang tidak diketahui di zaman sahabat, maka kami bertanya kepada Aisyah, dan kami memperoleh ilmu dari beliau”. (Al-Hadits)
***
Ummahatul Mukminin, Aisyah r.a. Siapa yang tidak mengenal beliau? Beliau adalah istri kesayangan Rasulullah Saw. Satu hal yang membuatnya menjadi kecintaan Rasulullah Saw adalah kecerdasan dan keluasan wawasannya. 

Seperti apakah kecerdasan beliau yang pada akhirnya menjadikannya sebagai rujukan berbagai cabang ilmu? Berikut kisah ringkas Aisyah r.a. dan kecerdasan intelektual yang patut diteladani oleh kita sebagai seorang muslimah.

Aisyah lahir pada bulan Syawal tahun ke-9 sebelum hijrah atau bulan Juli 614 M. Kecerdasan Aisyah sendiri sudah terlihat sejak kecil, diantaranya:
  1. Mampu mengingat dengan baik apa yang terjadi pada masa kecilnya, termasuk hadist-hadist yang didengarnya dari Rasulullah Saw;
  2. Mampu memahami, meriwayatkan, menarik kesimpulan serta memberikan penjelasan detail hukum fiqih yang terkandung di dalam hadist;
  3. Sering menjelaskan hikmah-hikmah dari peristiwa yang dialaminya pada masa kecil;
  4. Mampu mengingat dan memahami rahasia-rahasia hijrah secara terperinci hingga bagian-bagian terkecilnya.
Aisyah r.a ditinggal wafat oleh Rasulullah saw ketika berusia 18 tahun. Bagi kita apa yang dapat dilakukan oleh seorang gadis berusia 18 tahun? Tapi beliau telah menguasai berbagai masalah agama sedemikian luas. Bahkan dikatakan bahwa segala sabda dan perbuatan Rasulullah saw dapat diingatnya tanpa batas.

Hal lain yang sangat mengagumkan, di kalangan para perawi hadits Aisyah r.a menempati posisi ke 4 dalam jumlah hadits yang diriwayatkan, yaitu sebanyak 2210 hadits. Jumlah tersebut mengalahkan jumlah hadits yang diriwayatkan sahabat lain yang usianya jauh lebih tua dari beliau.

Dalam meningkatkan tarap keilmuan umat Islam, Aisyah secara nyata mengabdikan dirinya dengan mendirikan sebuah madrasah (sekolah). Madrasah Aisyah adalah madrasah ilmu yang paling diminati setelah wafatnya Rasulullah. Ia mendidik secara langsung setiap orang yang meminta pengajaran darinya tanpa pandang bulu. Orang-orang yang meminta fatwa hukum dan menanyakan berbagai persoalan, Aisyah menyimaknya dengan saksama lalu memberikan jawaban yang sebaik-baiknya yang ia ketahui.

Dari madrasah yang diasuh oleh Aisyah itu, lahir banyak ulama terutama dari kalangan tabi’in. Terdapat banyak bukti dalam literatur Islam yang menunjukkan hal itu. Bahkan Qosim, salah satu ahli fiqih terkemuka di Madinah berkata, “Aisyah memberikan fatwa secara independent pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan seterusnya hingga akhir hayatnya. Jadi, meskipun Aisyah adalah seorang wanita, tapi kapasitas keilmuannya tidak kalah dari sahabat rasul yang pria.”

Berdasarkan sudut pandang agama, syariat, akhlak, kemuliaan, dan kesucian, Aisyah tidak bisa dibandingkan dengan perempuan terkenal mana pun pada masa kini dan masa-masa sebelumnya.

Itulah Aisyah, sosok dengan sifat-sifat paripurna yang telah menghadirkan teladan ideal bagi ratusan juta kaum perempuan di dunia. Semoga kita dapat berkaca, serta terus berusaha untuk meneladani kecerdasan serta kemuliaannya. Aamiin ya Rabbal Alamiin.
Aisyah..you're so inspiring for Muslimah :)

Source: Aisyah, the True Beauty

Ibu, Panggilan Baruku

Menjadi ibu merupakan impian setiap wanita, saya rasa. Dan impian itu telah saya raih untuk sementara. Mengapa saya katakan sementara? Hmm.. ya, se-sementara saya mengasuh mereka. Dua jam saja. Dari jam delapan hingga sepuluh pagi setiap harinya. Dua jam yang sangat saya nikmati ketika menjadi ibu bagi bagi anak-anak saya (tepatnya murid) di sekolah.

Mungkin kedengarannya biasa saja. Tapi tidak demikian bagi saya. Dan mungkin juga hal ini dirasakan oleh rekan-rekan pengajar PAUD (dan semacamnya) seperti saya.

Kurang dari sebulan saya menggeluti aktivitas itu. Maka sebagaimana saya meyakini bahwa pengalaman baru membawa pelajaran baru, saya merasa betapa siswa-siswa empat tahunan itu mengajari saya berbagai hal: Kesabaran, keikhlasan, persahabatan, keuletan, serta pemahaman tentang tumbuh kembang dan karakteristik anak pada umumnya, dan perbedaan karakter satu anak dengan anak yang lainnya sehingga menuntut saya untuk pandai menyikapi keunikan-keunikan tersebut.

Sebelum menceritakan “anak-anak saya” satu persatu, terlebih dahulu saya ingin mendeskripsikan kondisi sekolah yang baru berdiri satu tahun di kampung saya itu.

Jangan bayangkan PAUD tempat saya “belajar” adalah sebuah sekolah atau kelompok bermain yang megah dan luas dengan fasilitas lengkap yang menunjang perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Tidak! Sungguh jauh panggang dari api. Bagi saya, dengan adanya warga di kampug kami yang tergerak untuk mendirikannya saja, sudah Alhamdulillah.

Kesannya kampung banget? Tidak mengutamakan pendidikan?

Ya. Saya tidak dapat memungkiri persepsi itu. Jelas saja, tidak akan ada semangat belajar yang tinggi jika tujuan dari sekolah adalah hanya untuk mendapatkan selembar ijazah sebagai bekal menjadi karyawan pabrik. Ilmu apakah yang diperlukan untuk manjadi seorang karyawan pabrik? Jika jawabannya adalah hanya “baca tulis”, maka memang itulah target yang ingin dicapai dari sekolah SD sampai SMA.

Sejak saya masih duduk di bangku TK, di kampung saya, anak yang juga mengenyam pendidikan TK hanya satu dua. Dan keadaan itu terus berlanjut sampai saya menginjak bangku sekolah menengah. Masih banyak orang tua yang berpikiran bahwa tidak banyak yang bisa didapatkan dengan mendaftarkan anak-anaknya ke TK. Maka ketika saat ini saya melihat ada warga yang terketuk hatinya untuk mengunjungui departemen pendidikan dan mengutarakan maksudnya untuk mendirikan PAUD di kampung kami, saya merasakan seberkas cahaya mulai menerangi kampung kami (deu.. lebay!). setidaknya meski baru PAUD saja, anak-anak kini memiliki tempat untuk bermain sambil belajar dengan adanya bimbingan dari seorang guru.

Dan di PAUD inilah saya mengisi liburan panjang saya: PAUD Nurunnisa.

Pertama kali mengunjunginya, pertanyaan pertama yang terlontar dalam benak saya adalah, apa anak-anak merasa nyaman belajar di ruangan berukuran 2x2 meter seperti ini?

“Jumlah muridnya baerapa, bu?” tanya saya pada Bu Nur. Satu-satunya pengajar di sana.
“Sebelas. “
Aku membayangkan sebelas anak yang mungkin kesulitan bergerak bebas dalam luas ruangan yang terbatas.

“Tahun lalu sampai dua puluh tiga, tapi sepertinya para orang tua kurang percaya bahwa sekolah ini bisa membimbing anak-anaknya dengan baik karena sampai sekarang gurunya tak juga bertambah.” Lanjutnya.

Aku hanya tersentum. Kemudian menebak-nebak alasan lain yang mungkin jadi penyebab lain berkurangnya jumlah siswa dibandingkan dengan tahun lalu.

Wajar sebanarnya jika siswanya masih sedikit, sekolah ini baru berdiri satu tahun. Tapi meski baru, publikasi bisa disiasati tentu. Membuat spanduk misalnya. Cukup satu spanduk di depan sekolah, tidak perlu memasang benner di jalan-jalan atau iklan melalui media massa. Mengingat kapasitas PAUD Nurunnisa yang memang masih terbatas. Terbatas dari segi fasilitas, manajemen, juga pengajar. Ya, satu spanduk untuk mengundang calon siswa dari tetangga-tetangga dekat yang sudah memasuki usia TK.

Ruangan sempit yang tidak berwarna itu, dengan cukup kreatif  diakali Bu Nur. Banyak pernak pernik dari karton spot light membentuk gambar buah-buahan yang disesuaikan dengan warna aslinya. Mainan ape dalam seperti balok, puzzle dan bola-bola plastik sudah ada. Ape luar juga meski tidak lengkap, tapi cukup membuat anak-anak girang bergiliran naik perosotan atau ayunan.

O tidak, tidak semua anak. Ada beberapa anak yang terlihat tidak mau bermain dengan teman-temannya. Entah karena masih malu-malu, atau memang tidak berminat. Salah satunya Tiara, gadis kecil empat tahunan dengan kulit hitam manis ini tidak akan berkata apa-apa kalau tidak ada yang bertanya. Jawaban yang ia lontarkan ketika saya cerewet bertanya pun, terbatas hanya pada anggukan atau gelengan kepala saja.  Ketika awal pembelajaran, setelah membaca doa belajar dan bernyanyi, setiap saya bertanya,

“ Mau belajar atau bermain?’

Rata-rata anak menjawab ingin bermain. Tiara hanya diam. Lalu saya menghampirinya dan betanya khususon padanya sambil menawarkan sebuah puzzle,
“Tiara mau main ini? liat, ini kalo dipasang bisa membantuk gambar mobil lho. Mau?”
Dia menggeleng.
“Atau mau belajar?”
Aha, Tiara mengangguk!

Anak-anak memang unik. Tiara memang belum optimal perkembangan sosialnya, dia juga terlihat kurang lincah dan ceria. Tapi ketika disodorkan pada persoalan intelektual, dia akan gesit menyelesaikannya. Dalam usia empat tahun Tiara sudah bisa menulis alfabet dengan rapi, cepat dan tanpa mengeluh.

Berbeda dengan Tiara, Daffa trelihat sebaliknya. Anak yang setiap 1 menit 1x memanggilku ini lebih senang bermain sambil belajar. Kesukannya menyusun fuzzle. Fuzzle menurutku bukan sekedar permainan. Bentunya memang mainan, tapi mainan ini bisa merangsang aspek kognitif anak.

Teringat sebuah seminar yang saya ikuti tentang jujur dalam pendidikan, salah satu hal yang harus diperhatikan dalam membangun kejujuran dalam semua aspek pendidikan adalah jujur dalam kurikulum. Di sini saya menangkap bahwa kurikulum hendaknya tidak memaksakan siswa untuk mempelajari dan harus pandai dalam suatu materi pelajaran yang diajarkan. Setiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda. Biarlah mereka menjadi ahli dalam bidang  yang mereka minati dan kuasai. Jangan paksakan burung untuk pandai berenang. Jangan paksakan seorang seniman untuk menjadi dokter.

Masih tentang Daffa, hmm… kayaknya kalo udah gede anak ini bakalan ganteng nih, (hehe.. ibu gurunya genit!). daffa selalu enggan diajak belajar mengenal alphabet, angka, buah-buahan, menulis, menggambar, mewarnai, ataupun bernyanyi. Duh, sempat terpikir juga, Daffa ini sukanya apa toh? Ini nggak mau itu nggak mau! Satu hal yang paling Daffa suka adalah bermain: menyusun fuzzle, lari keluar untuk main perosotan, atau mengajak main mobil-mobilan pada teman-temannya yang tengah menggambar. Ya Allah... cepat kuputar otakku untuk mencari jalan keluar menghadapi anak yang satu ini. Guru yang baik tidak akan men-judge siswanya nakal, bodoh, malas, atau predikat negative lainnya. Dalam setiap kasus pastilah ada penyebabnya yang mungkin berasal dari pengalaman masa kecil, lingkungan atau keluarga. Jadilah saya mengkomunikasikan perihal gaya belajar daffa pada orang tuanya.

“Daffa sudah hafal bentuk-bentuk alphabet dan angka-angka. Di rumah, ayahnya yang mengajarinya” Kata Ibu Daffa. Jawaban yang sama sekali tidak kusangka. Maka kesimpulan baru yang kudapat adalah tidak selamanya anak enggan belajar karena ia malas, bisa saja karena ia sudah jenuh dengan materi pelajaran yang sudah ia kuasai. Di rumah, Daffa sudah rajin balajar. Di sekolah, ketika ia menemukan mainan yang tidak ia dapatkan di rumah, ia begitu ingin mengeksplorasinya. Pendidikan tidak terbatas dalam arti pengajaran aspek intelektual. Dengan bermain, berlari, anak berarti mengembangkan aspek motoriknya, juga mengembangkan aspek psikososial dengan belajar bergaul dengan teman sebayanya.

Khawatir tulisan saya kepanjangan (dan berhubung sudah ngantuk juga, hehe), saya akhiri dulu saja cerita saya. Yang terpenting adalah ketika saya mengungkap apa yang saya fahami dari suatu fenomena (beuraat..!) saya tidak berhenti hanya dengan memahaminya saja. Harus ada follow up yang menambah kebermaknaan pengetahuan kita. Sampai saat ini, yang mampu saya lakukan adalah dengan menyisipkan pelajaran lewat permainan fuzzle pada anak yang suka fuzzle, menerapkan sikap kerja sama dan saling menghargai dalam permainan ayunan dan perosotan, mengajarkan keindahan lewat gambar dan warna pada anak yang suka menggambar dan mewarnai, dan lain sebagainya. Karena Allahpun mengajarkan sains, kerja sama, menghargai, juga keindahan.

Innama al-ilmu bi at-ta’allumi.

Semoga Allah selalu memberi kita kesempatan untuk membuktikan pada-Nya, bahwa kelak, kita akan mampu mengemban amanah-Nya, menggemakan asma-Nya di muka bumi melalui keturunan-keturunan kita. Aamiin!





Memory of Ramadhan
September 2011

Karaktermu = Shalatmu

Seperti halnya malam dengan gelapnya ataupun siang dengan terangnya, setiap individu memiliki karakteristik masing-masing. Ada yang ‘terang’ dan ada yang ‘gelap’.
Pada dasarnya, hal ini disebabkan manusia berada pada posisi pertengahan, yaitu antara baik dan buruk. Meskipun manusia dinobatkan sebagai makhluk yang sempurna, namun tidak setiap manusia memiliki karakter yang sempurna pula, dalam artian bercitra baik di hadapan sesama manusia maupun dihadapan Allah SWT. Karena selain berpotensi untuk berbuat baik, setiap individu juga memiliki kecenderungan untuk memperbuat sesuatu yang tidak baik atau mengikuti hawa nafsunya yang kemudian berpaling dari ajaran Islam.


Ketika seorang muslim mengikuti hawa nafsunya tersebut, maka identitasnya sebagai umat Islam akan sulit dikenali. Padahal Rsulullah SAW telah mencontohkan perilaku muslim yang seharusnya, baik dalam perkataan, perbuatan, pemikiran dan lain sebagainya untuk dijadikan teladan bagi seluruh umatnya. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik…” (QS Al- Ahzab: 21)

Setiap umat Islam harus menyadari sepenuhnya bimbingan Allah melalui sunnah Rasulullah agar selalu ingat dan berintrospeksi terhadap apa yang telah diperbuatnya. Dengan demikian kita dapat mengukur sejauh mana kita meneladani Rasulullah.
Seorang muslim berkewajiban memperbaiki dirinya sebelum bertindak lebih jauh karena seorang muslim seharusnya memiliki akhlaqul karimah dan berusaha membentuk dirinya sebagai umat Islam yang berbudi luhur.

Untuk mencapai semua itu kita harus memulainya dari saat ini, karena karakteristik pribadi muslim dapat dibentuk dari perilaku atau kegiatan sehari-harinya. Sebagai contoh, jika seorang muslim rajin beribadah, maka dari setiap waktu yang dilaluinya ia akan selalu teringat kepada Allah. Dengan itu, ketika ia berpikir untuk mencoba melakukan sesuatu yang dilarang agama, maka hati kecilnya akan membantahnya , karena sedah terkait denga ajaran Islam.

Lain lagi dengan seseorang yang perilaku atau kegiatan sehari-harinya jauh dari mengingat Allah, maka tatkala ia bermaksud untuk melakukan sesuatu yan dilarang agama-pun, hati kecilnya tidak akan membantah karena mungkin baginya hal itu bukanlah perbuatan yang salah.

Faktor rutinitas ibadah pertama yang paling berpengaruh terhadap pembentikan pribadi muslim adalah shalat. Dalam tingkatan rukun Islam, shalat menduduki posisi kedua setelah syahadat. Hal ini menggabarkan bahwa shalat merupakan bagian yang penting dalam bangunan Islam. Dalam sebuah hadits ditegaskan bahwa shalat merupakan tiangnya agama. Selayaknya fungsi tiang, shalat merupakan factor yang sangat menentukan tegak atau robohnya bangunan Islam tersebut dalam diri seorang muslim.

Dengan kata lain, shalat menjadi tolak ukur terhadap kuat atau lemahnya aspek religi dalam diri seorang hamba. Seseorang yang sudah mampu mendirikan rukun Islam yang kedua ini dengan sempurna, maka dapat dipastikan dirinya menjadi seorang muslim yang memiliki akhlaqul karimah, karena niscaya shalatnya dapat membentengi terhadap perbuatan keji dan munkar. Allah SWT berfirman:
“…dan dirikanlah shalat karena sesungguhnya shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar…” (QS Al- Ankabut: 45)

Diantara ibadah-ibadah yang diwajibkan kepada umat Islam, shalat memiliki kedudukan tersendiri. Hal ini bisa kita lihat karena ibadah-ibadah wajib lain, seperti shaum, zakat dan haji hanya dilakukan sekali dalam setahun, sedangkan shalat merupakan ibadah yang dilakukan secara kontinyu (terus-menerus). Hal ini semata-mata bukan hanya rutinitas atau label agama saja, akan tetapi dibalik semua itu tersimpan makna serta keistimewaan-keistimewaan yang diantaranya sebagai pembentuk karakter atau budi pekerti.

Tercatat dalam sejarah, bahwa shalat adalah ibadah yang pertama diwajibkan oeh Allah. Selain itu, berbeda dengan ibadah lain yang disampaikan kepada Rasulullah dengan perantara wahyu, shalat disampaikan secara langsung ketika Rasul menjalani peristiwa Isra Mi’raj.

Identitas seorang muslim tidak terlepas dari ibadah shalat, karena shalat merupakan factor yang membedakan antara pribadi muslim dengan kafir. Orang muslim yang Islamnya benar, pasti melakukan ibadah shalat dengan kesungguhan dan kekhusyukan seraya berjamaah. Sedangkan mereka yang Islamnya hanya pengakuan saja, shalat hanya sekedar lambang atau keinginan untuk mendapatkan pengakuan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Amalan yang pertama kali dihisab dari seseorang di akhirat nanti ialah shalatnya, jika shalatnya diterima, maka akan diterima pulalah amalan-amalannya yang lain, tetapi jika shalatnya ditolak, maka akan ditolak pula amalan-amalan yang yang lainnya.” (HR Thabrani)

Dari hadits di atas dapat difahami bahwa shalat dalah kunci diterima atau tidaknya amal seseorang. Maka jelaslah, bahwa shalat memiliki peranan besar bagi kehidupan manusia khususnya dalam pembentukan pribadi muslim. Teori ini kiranya perlu direalisasikan oleh semua umat muslim, dimulai dari didirikannya shalat dengan sempurna sehingga berpengaruh terhadap pembentukkan karakternya.

Dirimu dalam Do'a

Sebongkah do’a dan sebuah pertanyaan retoris untukmu,
“Di usia ke-22, apa yang sudah kau hasilkan? Apa yang sudah kau kerjakan? Apa yang yang sudah kau punya?
Di usia ke-22, sudah jadi apa dirimu?”
Sebongkah doa, kuazzamkan dalam hatiku, kutorehkan dalam catatanku, berharap malaikat mengamini setiap ucapku, berharap Allah menyulap Kun. Fayakun.
Di angka usiamu yang semakin bertambah, dan jatah usiamu yang setiap detik berkurang, doaku,

  1. Semoga semakin tafaqquh fiddin.
  2. Selalu berbakti pada orangtua, membuat mereka bahagia dan bangga dengan mewujudkan impian besar mereka.
  3. Semoga berhasil menjadi kakak yang memberikan teladan baik bagi adik-adiknya.
  4. Selalu dapat memahami Ghina dan Rusydi sebagai dua orang adik dengan perbedaan usia, jenis kelamin, dan kepribadian.
  5. Semakin dan semakin dekat dengan keluarga.
  6.  Semoga dapat lebih ekstrovert di lingkungan keluarga besar.
  7.  Memiliki semangat belajar yang tak pernah mati.
  8. Semoga dilancarkan urusan perkuliahannya.
  9. Lekas susun skripsi, sidang, wisuda, lulus dan tidak perlu mengulang satu mata kuliahpun.
  10. Semoga ilmu yang didapatkan bermanfaat dan diamalkan di jalan-Nya.
  11. Semoga tidak malas lagi mengerjakan tugas ya, Aka.
  12. Semoga dengan adanya Aka, yayasan mengalami banyak kemajuan.
  13. Semoga Akapun dapat belajar banyak dari sana.
  14. Semoga bisa menjadi guru yang baik meskipun tidak berasal dari fakultas keguruan.
  15.  Semoga Aka dapat menyampaikan pemikiran-pemikiran Aka tanpa merasa canggung dan ragu disana, di pesantren, di sekolah, di lingkungan keluarga.
  16. Semoga di yayasan aka bisa diterima dengan baik oleh seluruh civitas. Oleh kepala sekolah, guru-guru lain, penjaga sekolah, pedagang, cleaning service, dan tentunya oleh para siswa.
  17. Semoga Aka bisa membagi waktu secara proposional antara semua aktivitas Aka.
  18. Semoga dapat memilih organisasi yang tepat untuk Aka berkembang dan mengembangkannya.
  19. Semoga organisasi apapun itu, dapat menjadi kendaraan Aka untuk menggapai ridho-Nya.
  20. Semoga aka, kita, dapat meredakan kegelisahan Rasulullah yang berucap di ujung hayatnya, “Ummatii.. Ummatii..”
  21. Semoga dapat menjadi pemimpin yang bijaksana, dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam agama.
  22. Semoga harapan Aka untuk menjadi pemimpin yang seperti Umar Bin Khattab dapat tercapai.
  23. Semoga dimanapun Aka berada, disana Aka dapat selalu menjadi pelita, bahkan matahari.
  24.  Semoga selalu dapat mempertangggung jawabkan angka usia.
  25. Semoga tak akan pernah ada gurat kekecewaan dari orang-orang yang menaruh kepercayaan kepada Aka.
  26. Semoga waktu selalu berpihak pada mimpi-mimpinya Aka.
  27.  Semoga Allah memberikan semangat belajar yang lebih tinggi pada Aka, dibandingkan dengan tantangannya.
  28. Semoga Aka dilancarkan dalam berkarier,  sukses akhirat dan sukses dunia, agar bisa membangun mesjid, sekolah, dan lapangan pekerjaan bagi ribuan orang.
  29. Semoga Aka mendapatkan pendamping hidup yang dapat mengiringi perjuangan Aka.
  30. Semoga menjadi ahli syukur, ahli shadaqah, ahli ibadah, ahli surga.
  31. Semakinlah dewasa dalam arti yang sesungguhnya.
  32. Semoga dapat mengurangi porsi tempramentalnya.
  33.  Semoga selalu pandai membawa dan menempatkan diri.
  34. Semakin lihai melebur ego untuk hal yang positif.
  35. Semakin komunikatif, produktif, kreatif, inovatif dan inspiratif.
  36. Semoga semakin dapat memahami Ade.
  37. Semoga tak lekas lelah mendidik ade.
  38. Semoga dapat tetap menjadi tempat berdiskusi bagi Ade, dan bagi siapapun yang akan membuat Aka merasa semakin berarti.
  39. Semoga dapat selalu menjadi teman, kakak, sahabat, dan guru yang baik bagi Ade.
  40. Selalu dan selalu mewarisi keutamaan hujan. Menjadi hujan.
  41. Semoga Aka bisa semakin dekat dengan keluarga Ade.
  42. Dapat membantu Ade berjuang dalam keluarga Ade.
  43. Tidak canggung, malu, atau speechless saat ngobrol dengan keluarga Ade.
  44. Semoga orangtua dan adik-adik Ade semakin dapat menerima dan menyayangi Aka sebagaimana Ade demikian terhadap Aka.
  45. Semoga Aka selalu dilimpahi kesehatan. Kuruspun tak apa. Asal sehat. Kuat.
  46. Semoga selalu dianugerahi kebahagiaan hakiki.
  47. Diberi kemudahan dalam setiap persoalan.
  48. Kesabaran yang seluas lautan.
  49. Kesyukuran yang tak pernah ada batas.
  50. Semoga selalu, selalu dan selalu dapat meneladani Rasulullah Muhammad saw.
  51. Semoga kecerdasan yang telah Allah anugerahkan, menjadi jalan menuju rahmat-Nya.
  52. Semoga dapat kembali semangat menulis. Mengoptimalkan potensi yang diberikan-Nya. Berdakwah melalui tulisan.
  53. Semoga semakin cakep ;)
  54. Semoga Allah memberikan segala yang Aka butuhkan pada waktu yang terbaik menurut-Nya.
  55. Semoga disaat siapapun memandang Aka, mereka seperti melihat Al-Quran yang berjalan.
  56. Semakin dapat mengelola aktivitas, memperhatikan dan merealisasikan fiqih prioritas dengan baik.
  57. Semoga dimudahkan dan diizinkan-Nya untuk lekas menggenapkan separuh agama.
  58. Semoga dapat mengangkat harkat keluarga, sesuai harapan orangtua.
  59. Semoga benar, kita dipertemukan dan kelak dipersatukan untuk menjadi sepasang mujahid yang berjuang untuk menggemakan asma-Nya.
  60. Semoga malaikat mengamini doa-doa Aka, dan do’a-do’a Ade untuk Aka.

Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin...

Show don't/and Tell


Hal yang menarik dari hubungan kita adalah adanya diskusi yang tidak hanya menyangkut masalah logika, tapi juga mengenai perasaan. Tentu bukan beralay-alay atau bermelankolis ria. Tapi bagiku ini cukup menjadi perhitungan seberapa rasional perasaan yang kupunya untukmu. Meskipun sebenarnya tak berhaklah kita mengukur masalah hati dengan menggunakan logika.
Pernah suatu hari kukatakan,
“Peraturan mencintai itu seperti peraturan dalam menulis fiksi.” Kataku, maklum kita sama-sama menggeluti bidang sastra.
Show, DON’T tell.” Lanjutku.
“Hei, show AND tell.” Katamu langsung menangkis argumenku.
Ya ya ya, show and tell sesering, sebanyak dan setulus mungkin, hanya pada mahramnya. Aku bergumam. Lantas bahasa tubuhku hanya tersenyum, entah kau dapat membaca pikiranku atau tidak. Tapi berakhirnya percakapan kita mengenai ini kurasa karena kita telah sama-sama menemukan kesimpulannya. Tanpa harus didiskusikan kembali.
Sekarang aku bertanya terang-terangan padamu, kau setuju dengan pendapat terakhirku, bukan?

Brankas Rumah Kita

Kau mengajariku menyimpan cerita. Meminta mulut, mata, dan bahasa tubuh apapun untuk bungkam. Tak semua kisah bisa kubagikan, katamu. Meski karenanya aku merasa semakin jauh dengan sahabat-sahabatku.
“Berceritalah padaku. Dengan senang hati aku menyimakmu.”
Aku tersenyum. Rupanya kau ingin menjadi sahabatku.
“Ceritakan bahagiamu pada mereka. Dan sedihmu padaku saja.”
Aku tak mampu berkata-kata. Tak tahu benar maksud pintamu. Yang kutahu, aku memang perlu belajar. Semua tentang kita baiknya hanya kita yang simpan.
Kelak ini bernama rahasia keluarga. Kusimpan baik-baik dalam brankas rumah kita. Hanya aku dan kamu pemegang kuncinya.

Khitbah: Tidak Mengubah Apa-apa


Banyak literatur yang berbicara mengenai khitbah atau pinangan. Kita bisa menemukan referensi yang cukup mengenai itu, mulai dari definisi, larangan dalam mengkhitbah, syarat mengkhitbah, dan konsep-konsep lainnya yang secara tuntas dikupas lengkap dengan dalil-dalilnya.
Karenanya,bukan konsep umum itu yang hendak saya paparkan. Semuanya sudah jelas, Khitbah adalah kegiatan bertanya yang dilakukan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan mengenai kesedian si perempuan untuk menikah dengannya, atau sebaliknya. Adapun mengenai tata caranya, dalam syariat Islam sendiri simpel saja sebenarnya, hanya saja menjadi berkurang kesimpelannya ketika kita berbicara menggunakan konteks budaya. Sunda khususnya. Baiklah, mengenai hal inipun tidak akan saya bahas lebih lanjut pada kesempatan kali ini. Semoga bisa kita perbincangkan pada kesempatan lain.
Tujuan saya menulis ini adalah untuk menegaskan bahwa khitbah tidaklah mengubah apa-apa. Kecuali khitbah seharusnya menyadarkan kita betapa persiapan kita haruslah lebih ekstra dalam menghadapi terucapanya janji mitsaqan ghalidzo. Dalam menghadapi tersempurnakannya separuh agama kita.
Sungguh, khitbah tidaklah mengubah apa-apa. Hal ini tentu sangat difahami oleh para ikhwan-akhwat, perempuan – laki-laki, cewek – cowok (atau apapun sebutannya) yang tidak menggeluti aktivitas pacaran. Khitbah bukanlah setengah pernikahan, pertanyaan yang dilontarkan pihak laki-laki bukanlah kalimat ijab qabul yang menghalalkan seorang laki-laki dan perempuan untuk berpegangan tangan dan sebagainya. Anggukan kepala atau senyuman pertanda jawaban “Ya” dari pihak perempuan, bukanlah sebuah mantra ajaib yang membolehkan keduanya menjadi sering bertemu untuk mengekspresikan perasaan dan mencurahkan perhatian satu sama lain. Dan janji akan menikah di kemuadian hari tidak lantas menjadikan keduanya merasa telah saling memiliki.
Bagi seorang perempuan, secara psikologis khitbah memunculkan suatu ketenangan dalam diri. Setidaknya telah ada kepastian bahwa seorang laki-laki yang mendatanginya adalah memang memiliki niat baik dan sungguh-sungguh akan menikahinya.
Dan bagi seorang laki-laki, khitbah menjadi motivasi tersendiri layaknya jam alarm yang akan mengingatkannya untuk bangun dari mimpi, menata hari ini dan membangun masa depan. Mempersiapkan diri untuk menjemput perempuan yang telah dipinangnya.
Persiapan diri seperti ini juga berlaku bagi perempuan. Seorang perempuan yang telah dipinang hendaknya berkaca diri mengenai apa-apa yang belum dan seharusnya ia kuasai sebagai seorang istri. Memasak misalkan. Mengelola keuangan, membaca buku-buku tentang kehidupan berkeluarga, kehamilan, pendidikan anak, berkenalan lebih jauh dengan calon pasangan, dengan keluarga calon pasangan, mengelola emosi, melebur ego, memahami kelemahan calon pasangan, segala sesuatu yang membuatnya senang, yang membuatnya marah, mengungkapkan mimpi-mimpi masing-masing, kendala masing-masing, visi misi dalam berkeluarga, dan lain sebagainya mulai persiapan psikologis, biologis, budaya, sampai finansial.
Satu hal yang perlu diperhatikan, perbincangan mengenai persiapan pernikahanpun tidak lantas membuat keduanya menjadikan itu semua alasan untuk dapat benbincang dengan leluasa. Selama ijab qabul belum terucapkan, batasan itu masih ada. Masih tebal.
Dan disinilah tantangannya. Meski khitbah adalah suatu kegiatan yang positif, namun keadaan setelah khitbah adalah tantangan tersendiri bagi kedua calon pasangan. Membaca buku-buku peenikahan dengan niat mempersiapkan diri, tidak jarang malah menambah keinginan untuk mentergesai terlaksananya pernikahan. Perbincangan mengenai persiapan pernikahanpun terkadang adalah pintu setan untuk keduanya saling beradu pandang. Dan masa penantian adalah ujian tersendiri yang harus dipastikan diisi dengan kegiatan meningakatkan kualitas pribadi.
Karenanya, sekali lagi, khitbah tidaklah mengubah apa-apa. Kecuali ia seharusnya menyadarkan betapa persiapan kita haruslah lebih ekstra dalam menghadapi sebuah hari yang dinantikan: Pernikahan.

Maukah Berlayar Denganku? (Serial Superboy dan Icih)

Seolah Boy mengambil tangannya dan ia letakkan di jantungnya. “Ini aku. Apakah kau mau berlayar?”
Icih hanya terdiam. Tidak menjawab. Tidak senyum, dan tidak manyun. Ekspresi wajahnya datar kendati hatinya melompat-lompat kegirangan.
Tapi tidak!
Tidak setiap yang membahagiakan itu baik. Dan tidak setiap yang baik ditandai dengan kebahagiaan. Karenanya, hingga pertanyaan itu dilontarkan berkali-kali oleh Boy, dan beratus-ratis kali oleh hatinya sendiri, tak pernah sekalipun Icih menemukan jawabannya.
Tidak “ya”, tidak “tidak”, tidak mengangguk, juga tidak menggeleng.
“Ini aku. Apakah kau mau berlayar?”
Lagi, pertanyaan itu selalu terngiang. Di kampus, di sekolah tempat Icih mendidik, di jalan, di angkot, di tempat tidur, di dapur, di dalam mimpi...
dan di dalam mimpi, Icih berharap dapat melihat pertanda sebagai jawaban istikharahnya. Tapi ternyata pertanda itu tak juga kunjung datang. Icih galau.
Hingga tiba saatnya Icih harus mengungkapkan jawaban itu di sebuah tempat yang telah dijanjikan. Jawaban yang harus ia sampaikan tidak hanya pada Boy yang bertanya padanya. Tapi juga pada keluarga yang Boy bawa sebagai tanda keseriusannya.
Saat itu, beberapa detik sebelum ia benar-benar harus menjawab, ia masih tidak tahu apa yang harus ia jawab...
“Aku butuh jawaban-Mu untuk menjadi jawabanku. Aku butuh restu-Mu ya Allah...”
Tidak, masih tidak ada jawaban. Padahal sebelum berangkat ke tempat ini, sepanjang jalan gadis dewasa awal ini memikirkannya masak-masak. Bahkan saat setelah shalat shubuh, doanya lebih panjang dari biasanya. Kemarin malam sebelum tidur, sambil menitikan air mata ia memohon ketetapan hati pada Tuhannya. Kemarin siang, kemarin pagi, berhari-hari dan berminggu-minggu sebelumnya, doa itu tak pernah lupa ia panjatkan. Pun tak lagi ia ingat jumlah istikharah yang telah ditunaikanya. Allah... tak adakah sedikit celah untukku mengintip ketentuan-Mu?
“Bagaimana Icih?”
Kali ini yang bertanya bukan lagi Boy, tapi walinya.
Icih masih terdiam
Terbayang wajah Abah yang berkata,
 “Tidak ada pelayaran sebelum selesai sekolah dan bekerja”
Lalu Ambu,
 “Mau kamu kemanakan cita-citamu?”
Lalu giliran hatinya yang berkata,
“Tapi aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang sulit. Sesungguhnya Allah tahu niatku dan ia akan selalu bersamaku selama aku meniatkan semua karena-Nya. Aku yakin gelombang badai apapun akan dapat kulalui. Aku tidak sendiri. Aku tidak sendiri. Innallaha ma’anaa
Selintas  Icih melirik pada Boy. Ada ketegasan disana. Menguatkan hati Icih.
Maka,
“Ya, Insya Allah.”
Jawaban itu terlontar dengan suara yang teramat parau. Lemah. Pelan. Namun dalam hatinya jawaban itu terazzam kuat.
Sejenak ia klarifikasi lidahnya, apa yang baru saja ia katakan? Ya Allah, ia benar-benar berharap, lidah yang menjawab adalah semata bukan hanya lidahnya. Tapi juga lidah-Mu. Ketentuan-Mu. Ridha-Mu.
Dan akhirnya ia tersenyum. Merasa yakin dengan jawabannya. Selanjutnya giliran Abah dan Ambu yang harus ia yakinkan. Selaksa doa memenuhi rongga hatinya.

Bismillah... aku melangkah!