Show don't/and Tell


Hal yang menarik dari hubungan kita adalah adanya diskusi yang tidak hanya menyangkut masalah logika, tapi juga mengenai perasaan. Tentu bukan beralay-alay atau bermelankolis ria. Tapi bagiku ini cukup menjadi perhitungan seberapa rasional perasaan yang kupunya untukmu. Meskipun sebenarnya tak berhaklah kita mengukur masalah hati dengan menggunakan logika.
Pernah suatu hari kukatakan,
“Peraturan mencintai itu seperti peraturan dalam menulis fiksi.” Kataku, maklum kita sama-sama menggeluti bidang sastra.
Show, DON’T tell.” Lanjutku.
“Hei, show AND tell.” Katamu langsung menangkis argumenku.
Ya ya ya, show and tell sesering, sebanyak dan setulus mungkin, hanya pada mahramnya. Aku bergumam. Lantas bahasa tubuhku hanya tersenyum, entah kau dapat membaca pikiranku atau tidak. Tapi berakhirnya percakapan kita mengenai ini kurasa karena kita telah sama-sama menemukan kesimpulannya. Tanpa harus didiskusikan kembali.
Sekarang aku bertanya terang-terangan padamu, kau setuju dengan pendapat terakhirku, bukan?

Brankas Rumah Kita

Kau mengajariku menyimpan cerita. Meminta mulut, mata, dan bahasa tubuh apapun untuk bungkam. Tak semua kisah bisa kubagikan, katamu. Meski karenanya aku merasa semakin jauh dengan sahabat-sahabatku.
“Berceritalah padaku. Dengan senang hati aku menyimakmu.”
Aku tersenyum. Rupanya kau ingin menjadi sahabatku.
“Ceritakan bahagiamu pada mereka. Dan sedihmu padaku saja.”
Aku tak mampu berkata-kata. Tak tahu benar maksud pintamu. Yang kutahu, aku memang perlu belajar. Semua tentang kita baiknya hanya kita yang simpan.
Kelak ini bernama rahasia keluarga. Kusimpan baik-baik dalam brankas rumah kita. Hanya aku dan kamu pemegang kuncinya.

Khitbah: Tidak Mengubah Apa-apa


Banyak literatur yang berbicara mengenai khitbah atau pinangan. Kita bisa menemukan referensi yang cukup mengenai itu, mulai dari definisi, larangan dalam mengkhitbah, syarat mengkhitbah, dan konsep-konsep lainnya yang secara tuntas dikupas lengkap dengan dalil-dalilnya.
Karenanya,bukan konsep umum itu yang hendak saya paparkan. Semuanya sudah jelas, Khitbah adalah kegiatan bertanya yang dilakukan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan mengenai kesedian si perempuan untuk menikah dengannya, atau sebaliknya. Adapun mengenai tata caranya, dalam syariat Islam sendiri simpel saja sebenarnya, hanya saja menjadi berkurang kesimpelannya ketika kita berbicara menggunakan konteks budaya. Sunda khususnya. Baiklah, mengenai hal inipun tidak akan saya bahas lebih lanjut pada kesempatan kali ini. Semoga bisa kita perbincangkan pada kesempatan lain.
Tujuan saya menulis ini adalah untuk menegaskan bahwa khitbah tidaklah mengubah apa-apa. Kecuali khitbah seharusnya menyadarkan kita betapa persiapan kita haruslah lebih ekstra dalam menghadapi terucapanya janji mitsaqan ghalidzo. Dalam menghadapi tersempurnakannya separuh agama kita.
Sungguh, khitbah tidaklah mengubah apa-apa. Hal ini tentu sangat difahami oleh para ikhwan-akhwat, perempuan – laki-laki, cewek – cowok (atau apapun sebutannya) yang tidak menggeluti aktivitas pacaran. Khitbah bukanlah setengah pernikahan, pertanyaan yang dilontarkan pihak laki-laki bukanlah kalimat ijab qabul yang menghalalkan seorang laki-laki dan perempuan untuk berpegangan tangan dan sebagainya. Anggukan kepala atau senyuman pertanda jawaban “Ya” dari pihak perempuan, bukanlah sebuah mantra ajaib yang membolehkan keduanya menjadi sering bertemu untuk mengekspresikan perasaan dan mencurahkan perhatian satu sama lain. Dan janji akan menikah di kemuadian hari tidak lantas menjadikan keduanya merasa telah saling memiliki.
Bagi seorang perempuan, secara psikologis khitbah memunculkan suatu ketenangan dalam diri. Setidaknya telah ada kepastian bahwa seorang laki-laki yang mendatanginya adalah memang memiliki niat baik dan sungguh-sungguh akan menikahinya.
Dan bagi seorang laki-laki, khitbah menjadi motivasi tersendiri layaknya jam alarm yang akan mengingatkannya untuk bangun dari mimpi, menata hari ini dan membangun masa depan. Mempersiapkan diri untuk menjemput perempuan yang telah dipinangnya.
Persiapan diri seperti ini juga berlaku bagi perempuan. Seorang perempuan yang telah dipinang hendaknya berkaca diri mengenai apa-apa yang belum dan seharusnya ia kuasai sebagai seorang istri. Memasak misalkan. Mengelola keuangan, membaca buku-buku tentang kehidupan berkeluarga, kehamilan, pendidikan anak, berkenalan lebih jauh dengan calon pasangan, dengan keluarga calon pasangan, mengelola emosi, melebur ego, memahami kelemahan calon pasangan, segala sesuatu yang membuatnya senang, yang membuatnya marah, mengungkapkan mimpi-mimpi masing-masing, kendala masing-masing, visi misi dalam berkeluarga, dan lain sebagainya mulai persiapan psikologis, biologis, budaya, sampai finansial.
Satu hal yang perlu diperhatikan, perbincangan mengenai persiapan pernikahanpun tidak lantas membuat keduanya menjadikan itu semua alasan untuk dapat benbincang dengan leluasa. Selama ijab qabul belum terucapkan, batasan itu masih ada. Masih tebal.
Dan disinilah tantangannya. Meski khitbah adalah suatu kegiatan yang positif, namun keadaan setelah khitbah adalah tantangan tersendiri bagi kedua calon pasangan. Membaca buku-buku peenikahan dengan niat mempersiapkan diri, tidak jarang malah menambah keinginan untuk mentergesai terlaksananya pernikahan. Perbincangan mengenai persiapan pernikahanpun terkadang adalah pintu setan untuk keduanya saling beradu pandang. Dan masa penantian adalah ujian tersendiri yang harus dipastikan diisi dengan kegiatan meningakatkan kualitas pribadi.
Karenanya, sekali lagi, khitbah tidaklah mengubah apa-apa. Kecuali ia seharusnya menyadarkan betapa persiapan kita haruslah lebih ekstra dalam menghadapi sebuah hari yang dinantikan: Pernikahan.

Maukah Berlayar Denganku? (Serial Superboy dan Icih)

Seolah Boy mengambil tangannya dan ia letakkan di jantungnya. “Ini aku. Apakah kau mau berlayar?”
Icih hanya terdiam. Tidak menjawab. Tidak senyum, dan tidak manyun. Ekspresi wajahnya datar kendati hatinya melompat-lompat kegirangan.
Tapi tidak!
Tidak setiap yang membahagiakan itu baik. Dan tidak setiap yang baik ditandai dengan kebahagiaan. Karenanya, hingga pertanyaan itu dilontarkan berkali-kali oleh Boy, dan beratus-ratis kali oleh hatinya sendiri, tak pernah sekalipun Icih menemukan jawabannya.
Tidak “ya”, tidak “tidak”, tidak mengangguk, juga tidak menggeleng.
“Ini aku. Apakah kau mau berlayar?”
Lagi, pertanyaan itu selalu terngiang. Di kampus, di sekolah tempat Icih mendidik, di jalan, di angkot, di tempat tidur, di dapur, di dalam mimpi...
dan di dalam mimpi, Icih berharap dapat melihat pertanda sebagai jawaban istikharahnya. Tapi ternyata pertanda itu tak juga kunjung datang. Icih galau.
Hingga tiba saatnya Icih harus mengungkapkan jawaban itu di sebuah tempat yang telah dijanjikan. Jawaban yang harus ia sampaikan tidak hanya pada Boy yang bertanya padanya. Tapi juga pada keluarga yang Boy bawa sebagai tanda keseriusannya.
Saat itu, beberapa detik sebelum ia benar-benar harus menjawab, ia masih tidak tahu apa yang harus ia jawab...
“Aku butuh jawaban-Mu untuk menjadi jawabanku. Aku butuh restu-Mu ya Allah...”
Tidak, masih tidak ada jawaban. Padahal sebelum berangkat ke tempat ini, sepanjang jalan gadis dewasa awal ini memikirkannya masak-masak. Bahkan saat setelah shalat shubuh, doanya lebih panjang dari biasanya. Kemarin malam sebelum tidur, sambil menitikan air mata ia memohon ketetapan hati pada Tuhannya. Kemarin siang, kemarin pagi, berhari-hari dan berminggu-minggu sebelumnya, doa itu tak pernah lupa ia panjatkan. Pun tak lagi ia ingat jumlah istikharah yang telah ditunaikanya. Allah... tak adakah sedikit celah untukku mengintip ketentuan-Mu?
“Bagaimana Icih?”
Kali ini yang bertanya bukan lagi Boy, tapi walinya.
Icih masih terdiam
Terbayang wajah Abah yang berkata,
 “Tidak ada pelayaran sebelum selesai sekolah dan bekerja”
Lalu Ambu,
 “Mau kamu kemanakan cita-citamu?”
Lalu giliran hatinya yang berkata,
“Tapi aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang sulit. Sesungguhnya Allah tahu niatku dan ia akan selalu bersamaku selama aku meniatkan semua karena-Nya. Aku yakin gelombang badai apapun akan dapat kulalui. Aku tidak sendiri. Aku tidak sendiri. Innallaha ma’anaa
Selintas  Icih melirik pada Boy. Ada ketegasan disana. Menguatkan hati Icih.
Maka,
“Ya, Insya Allah.”
Jawaban itu terlontar dengan suara yang teramat parau. Lemah. Pelan. Namun dalam hatinya jawaban itu terazzam kuat.
Sejenak ia klarifikasi lidahnya, apa yang baru saja ia katakan? Ya Allah, ia benar-benar berharap, lidah yang menjawab adalah semata bukan hanya lidahnya. Tapi juga lidah-Mu. Ketentuan-Mu. Ridha-Mu.
Dan akhirnya ia tersenyum. Merasa yakin dengan jawabannya. Selanjutnya giliran Abah dan Ambu yang harus ia yakinkan. Selaksa doa memenuhi rongga hatinya.

Bismillah... aku melangkah!


Pulang!

“Pulang Vi, mumpung masih lajang, udah nikah mah susah mau ketemu mamah teh"

Kata Yuni, salah seorang teman yang sudah nikah. Serius sekali yuni mengatakan itu padaku. Dia tahu benar bagaimana rasanya menahan rindu pada ibu. Saking seriusnya, Yuni menceritakan sepenggal kisah pengorbanan ibunya ketika dia kecil.

“Vi, waktu yuni SD, kan pulangnya hujan gede, yuni nggak bawa payung, tapi ternyata ibu bela-belain ngejemput. Padahal ibu lagi sakit!”

Aku juga pernah mengalami itu. Ketika tinggal di asrama pesantren, jam 11 malam aku menelpon mamah sambil nangis, mengadu bahwa aku sakit. Saat itu juga mamah menjemputku ke garut.
Yuni melanjutkan dengan cerita-cerita lain tentang pengorbanan ibunya. Semua cerita itu, akupun pernah merasakan.

“vi, yang namanya ibu kasih sayangnya tak terukur, tanpa pamrih, tulus. Uni berkata begini karena sekarang yuni juga sudah bisa merasakan.”
Teman sekelasku ini memang sekarang sudah memiliki seorang bayi kecil.
“berbakti, Vi. Mumpung mamah masih ada.” Kata temanku yang lain.

Rasanya jlebb sekali. beberapa orang mengerubuni dan menasehatiku agar memenuhi keinginan mamah agar aku pulang. Seolah aku adalah seorang anak durhaka yang enggan tinggal di rumah. Naudzubillah…

Mamah minta aku pulang. Berminggu-minggu belum sempat pulang. Mamah tidak memaksa, tapi aku tahu mamah mengatakan itu dengan penuh harap. Dan karenanya sahabat-sahabatkupun ikut bertindak.
“Vi, kata hadits juga ibu, ibu, ibu. Coba cari haditsnya ada nggak yang bilang organisasi, organisasi, organisasi.” Kata temanku lagi.

Mungkin dia kesal karena seringkali organisasi menjadi alasanku tak menyempatkan waktu untuk pulang.
Minggu ini tugas kuliah lagi banyak,
minggu ini FLP ada acara,
HIMI ada acara,
Mau rapat,
Seminar,
harus ke sana,
harus ke sini,
harus ngajar, dll…
aku jarang pulang, karena begitu banyak tanggung jawab yang harus kutunaikan disini. Ya, aku berpikir demikian seolah pulang bukanlah tanggung jawab.

Aku ingat bagaimana sebuah film atau iklan di TV menggambarkan seorang anak rantau yang sudah sukses di luar kota. Karenannya si anak sulit menemukan waktu luang untuk pulang menemui ibunya. Sedang nun jauh disana sang ibu tak bosan menatap halaman rumahnya, berharap anak tercinta berlari menuju rumah sambil tersenyum dan melambaikan tangan pada ibunya. Namun harapan baru terwujud ketika mata sang ibu tak mampu lagi terbuka untuk selamanya.

Allah, aku tak mau itu terjadi padaku…

Tapi tanpa bermaksud untuk lagi-lagi menggunakan alasan yang sama, minggu ini memang sedang banyak tugas kuliah, dan hari sabtu aku harus praktek di sekolah, HIMA-HIMI Persis UPI ada rilah, FLP Bandung hari minggu ada Kuliah Kepenulisan, dan ada rapat Silatda.

Tapi mamah memintaku pulang.

Dan teman-temanku ‘memaksa’ agar aku memenuhi keinginan mamah.
Sungguh, akupun ingin pulang. aku tidak ingin menyesal karena tak bisa membahagiakan orang tua. Dan caraku membahagiakan mereka saat ini sebenarnya mudah: aku hanya perlu pulang!

Dan aku pulang.

Dengan membatalkan acara ikut Training yang sebelumnya sudah aku agendakan.
Dengan ridha dari Khilda, temanku yang sekaligus ketua HIMI Persis UPI itu.
“Ida rela Via nggak ikut rihlah bareng himi, gak apa-apa. Pulang aja, Vi. Kasian mamah” katanya tulus.

dan keesokan harinya aku harus menunaikan tugasku sebagai panitia Kuliah Kepenulisan FLP Bandung, entah esok aku sudah ada di Bandung lagi sehingga bisa menunaikan tugasku ini, atau aku akan melakukan hal yang sama; menjelaskan pada rekan-rekan FLP Bandung bahwa aku harus pulang.

selain itu, selepas Kuliah Kepenulisan seharusnya aku langsung caw ke Viaduct, ada agenda merapatkan barisan panitia Silatda I Bandung Raya. Semoga panitia Silatdapun bisa mengerti.

Dan aku pulang. dengan kerinduan yang membuncah, dengan rasa bersalah karena seringkali tidak memprioritaskan keluarga. Meski kata salah satu temanku,
“Coba dikomunikasikan dengan baik, pasti akhirnya mereka bisa mengerti dan malah jadi bangga karena anaknya bisa aktif, bermanfaat bagi banyak orang”

Ya, benar sekali. Tapi aku jadi berpikir. Jika aku bisa memberikan penjelasan pada orangtuaku bahwa aku harus mengerjakan ini dan itu terkait tanggung jawabku dalam berorganisasi,  mengapa aku tidak bisa menjelaskan pada rekan-rekanku di organisasi atau kepanitian itu bahwa akupun harus meluangkan waktu untuk mengerjakan ini dan itu terkait tanggung jawabku sebagai anak?

Jika aku bisa mengatakan bahwa kiprahku dalam berorganisasi adalah menebar manfaat untuk banyak orang, mengapa aku tidak bisa mengatakan bahwa berbakti pada orang tua adalah bentuk pengabdian yang sangat diutamakan oleh agama?

Ridhallaahu fii ridhal walidain…

Itu saja alasanku. Alasan yang semakin memperkuat alasanku, alasan orangtuaku, dan alasan teman-temanku yang keukeuh agar aku pulang.

Sambil menulis ini sebagai bentuk penjelasan pada sahabat-sahabat Himi Persis UPI, FLP Bandung dan panitia Silatda, terbersit dalam benakku sebuah pertanyaan tajam,

“akan jadi ibu seperti apa kelak kamu, Vi, apa ibu yang tidak akan pulang-pulang karena segudang aktivitasmu di luar, meski anakmu membutuhkan senyummu di setiap penggalan harinya, membutuhkan persetujuanmu untuk setiap aktivitas positifnya, membutuhkan teguranmu untuk setiap kesalahan kecilnya, membutuhkan belaianmu sebagai pelecut motivasinya, dan membutuhkan bimbinganmu dalam setiap perkembangannya? Apa sosok ibu seperti itu yang akan kau bentuk dalam dirimu sejak sekarang?

Tidak! Naudzubillahi min dzalik…

Aku hanya perlu satu detik untuk beristigfar. Dan setelah itu, pulang.


Memoar minggu lalu, 26 November 2011

Semangat, Via!

Via, Allah menganugerahkanmu pengetahuan tentang ilmu jiwa, tiada lain karena Ia ingin kamu memiliki jiwa yang kuat. Tak cukuplah kau mengatahuinya saja tanpa kau manfaatkan pengetahuan itu untuk dirimu sendiri, sebelum kau mengabarkannya pada orang lain.

Allah tidak akan menetapkan suatu perkara tanpa manusia dapat mengambil ibrah dari padanya. Ingatkah Via, saat kau tersentak dengan kelulusanmu dalam seleksi SNMPTN tanpa kau mempersiapkan itu semua? Tanpa kau benar-benar berminat untuk melanjutkan studimu di jurusan ini. Mengapa Allah memilihmu dari sekian ratus peserta tes yang lain?

Tiada lain Ia ingin kamu kuat. Allah tahu kau harus menjalani semua ini dengan bekal jiwa yang kuat. Dengan psychological strength yang memadai. Lalu setelahnya, giliran jiwa-jiwa lain yang kan kau kuatkan.

Bagaimana kau bisa menjalankan amanah Allah ini jika jiwamu masih rapuh seperti ini?

Ayolah Via, kamu tahu benar bagaimana caranya kau bangkit. Lima semester kamu mempelajarinya! Lihat, matamu sudah mau bekerja sama, ia bisa menahan tetesan air yang sebenarnya ingin mengalir sejak lama. Bibirmupun –meski kaku- setidaknya mampu berusaha untuk melengkungkan setiap sudutnya ke atas, membentuk sebuah senyuman. Egomu yang begitu liar, kini mulai bisa mengalah, menahan rasa sakit, gengsi, malu, amarah, untuk sebuah kemaslahatan yang kan bermakna bagi lebih banyak jiwa. Bukan jiwamu saja. Sekarang, bujuk semangatpun untuk segera kembali, yakinkan ia bahwa Allah selalu ada di sini, mengusir setiap ragu akan ketentuan-Nya yang maha indah…

Dan minta hatimu tuk hentikan resah yang tidak memberimu dampak positif. Katakan agar ia kembali bahagia.

Duh, hati… bagaimana caraku merayumu sedangkan fitrahmu tak terkemdali…


Vi, berusahalah untuk tidak meminta orang lain memahamimu. Mereka tidak memiliki keharusan untuk bersikap empati, mendengarkan, bijak, sabar, humanis, ikhlas, respect, peduli, ramah…

Kamulah yang harus mengaplikasikan itu semua. Sekali lagi, Allah memilihmu untuk mengemban peran ini, sebagai seseorang yang kan selalu peduli, mengerti, dan men-tawar-kan perasaanmu, demi kebaikan orang lain. Karena goal gettingnya adalah kemaslahatan bersama. Percayalah, janji Allah selalu tunai.

Semangat, Via!

Setiap kebenaran ada pada-Nya, mohon petunjuk-Nya.

Behind the Scene "Contact Person"


Saya sangat mencintai soulmate saya. Dialah yang selalu setia menemani hari-hari saya, suka dan suka, pahit dan manis, kami lalui bersama. Dia pulalah yang tahu benar bagaimana perjalanan hidup saya. Dia, saksi sejarah hidup saya.

Karenanya, saat ini saya ingin menuliskan sepenggal kisah penuh makna yang begitu mengajarkan saya arti kesabaran dan keikhlasan. Terimakasih yang tak terhingga untuk sang soulmate: HP Nokia 6070 keluaran tahun 2007.

Silakan komentari HP jadul yang saya gunakan di jaman yang serba canggih ini. Di saat orang lain sudah menggunakan teknologi sebagai cerminan gaya hidup mereka, saya masih setia dengan Hp butut, jadul yang fiturnya tidak lengkap ini. Bagaimanapun, sekali lagi, dia soulmate saya. (ngeles, padahal mah belum ada dana buat beli yang baru, hoho)

Dalam satu tahun terakhir, si Noki ini (nama panggilan HP saya), telah beralih fungsi dari yang tadinya digunakan sebatas untuk keperluan pribadi, sms-an ngalor ngidul dan tak puguh juntrungannya, kini bertaubat dan mewakafkan dirinya untuk ummat.

Setiap majikannya ini jadi panitia dalam suatu acara, seringkali dia jadi tumbal. (sebenarnya majikannya yang jadi tumbal), yaitu tiada lain adalah menjadi seorang “contact person

Sodara-sodara sebangsa dan setanah air, mungkin ada yang pernah mendapatkan sms promo acara, biasanya di bawahnya selalu tercantum nomor yang bisa dihubungi untuk informasi lebih lanjut. Atau di pamphlet, leaflet, spanduk, baligo, atau iklan di radio. Dalam beberapa acara, nomor yang tercantum di sana adalah nomor cantiknya si Noki. Alhasil, sms yang masuk ke hape jadul saya ini berasal dari nomor-nomor asing yang meskipun saya tidak tahu siapa pengirimnya, tetap harus saya balas, atau saya angkat telponnya dengan menunjukkan ekspresi yang seramah mungkin.

Namun karena pada dasarnya setiap individu itu unik, meski saya sudah berusaha untuk ramah, ada saja yang menanggapi dengan lempeng, jutek bahkan marah-marah pada saya. dalam hati jadi pengen nomong sendiri, “Ini sebenarnya siapa yang butuh sih?”

Contohnya waktu saya jadi panitia acara Kibar HIMI Persis. Karena kebetulan saya jadi koordinator perlombaan yang seluruhnya berjumlah 15 jenis lomba, maka saya yang jadi CP (Contac Person). Saya tahu benar apa konsekuensi yang saya harus tanggung ketika mengemban amanah ini. Pertama, saya harus benar-benar faham konsep acara dari A-Z. Kedua, saya harus selalu siap sedia kapanpun dimanapun untuk membalas sms dan telpon yang masuk. Ketiga, saya harus selalu memastikan bahwa si Noki tidak kehabisan pulsa. Keempat, saya harus siap-siap terkenal. Hehehe…

Namun selain empat poin yang sudah saya antisipasi sebelumya itu, ternyata ada poin lain yang tidak terprediksi sebelumnya, yaitu saya dimarahi peserta!

“Teh, saya dan teman-teman mau ikut lomba puisi, cerdas cermat, pidato b.inggris, pidato b.indonesia dan b.arab, sama lomba debat. Persayaratan dan ketentuannya apa aja?”
“untuk ketentuan lomba lengkapnya bisa dilihat di kibarhimipersis.wordpress.com. pendaftaran terakhir besok. Ditunggu ya… ^_^”
“saya nggak bisa ol teh, jauh ke warnetnya. Memangnya nggak bisa dismsin ya?”
“wah, kalau lwt sms nggak akan cukup 3 layar teh, hhe. Untk pidato temanya peran mhsswa sbg agent of change, puisi ada yg wajib ada yg pilihan. Puisinya sudah bisa dilihat di blog.. ”
“tolong ya, saya harap panitia bisa diajak kerjasama. Saya minta puisi dan peraturan lombanya dismskan. Terimakasih”

Dalam hati saya geram, mungkin muka saya juga terlihat kesalnya. Namun saya tidak boleh menunjukkan kekesalan saya. akhirnya saya menjawab,
“maaf Teh, puisinya sudah ditentukan, semuanya ada 1 puisi wajib dan 10 puisi pilihan, saya rasa teks puisinya tidak akan bisa dismskan, setiap lomba memiliki persyaratan yg berbeda. Untk persyaratan umumnya… bla..bla…bla…”
Akhirnya saya mengsmskan peraturan umum lomba. Dan seperti biasa, di ujung sms saya tidak boleh lupa menyisipkan symbol senyum, seolah saya memang sedang tersenyum, meski pada kenyataannya saya sedang manyun, sambil nyengir, ngomel, nangis, lalu ketawa terbahak-bahak sendirian. (lho?)

Ada yang bikin kesel, ada juga yang bikin saya cengengesan sambil geleng-geleng kepala. Pasalnya, ada salah satu peserta lomba KTI yang setelah mengirimkan makalahnya via email, si pengirim mengsms saya seperti ini,
“Teh, bisa tolong editin KTI saya? saya lupa yang bab III nya belum diedit. Yang itu tuh harusnya ada yang dibuang bagian B-nya, tarus yang bagian C diganti jadi bla..bla..bla… saya nggak sempet ngedit, lagian kata teteh terakhir dikumpulinnya kemaren. Tolong editin ya teh, KTI yang atas nama….bla..bla..bla…” Dia menyebutkan nama lengkapnya. Silakan tebak ekspresi saya ketika membaca sms itu!

Yang paling bikin kesel selama jadi CP perlombaab Kibar, adalah ketika peserta protes lewat sms karena hadiahnya tidak memuaskan.
“Setahu saya yang juara 1 itu hadiah yang dijanjikan adalah uang senilai sekian rupiah, kenapa yang saya dapatkan tidak sesuai ya?”
Padahal kami sebagai panitia, khususnya saya sebagai kordinator perlombaan merasa tidak pernah menjanjikan hadiah senilai uang sekian rupiah pada pemenang. Bahkan ketika technical meeting dengan sangat terbuka saya menjelaskan bahwa hadiahnya bukan berupa nominal uang, dengan alasan yang juga disampaikan secara terbuka.

Lain di Kibar, lain juga di acara Semerbak. Di acara ini saya jadi CP Sayembara Cerpen. Kejadian-kejadian lucu di Kibar juga terulang di sini. Peserta dengan karakter yang menuntut kesabaran seperti itu bukan hanya satu dua, tapi puluhan! Rasanya saya sudah kebal. Hihi. Yang unik di acara ini adalah adanya peserta yang mula-mulanya bertanya persyaratan lomba, lalu lanjut pada pertanyaan,
“teteh kordinatornya ya?”
“Hmm. Aktif di himi?
“kuliah di mana?”
“Jurusan apa”
“Wah hebat ya, berarti nanti di hari H kita bisa ketemu ya teh. Saya sedang ngambil S2 di *** (sensor). Oh ya namanya siapa?”

Gubrakkk!!

Itu terjadi beberapa bulan yang lalu, dan bulan-bulan ini, saya menjadi CP (lagi) pada Kuliah Kepenulisan FLP Bandung. Mungkin memang sudah sunatullah, individu itu unik dan melalui ini Allah menghendaki aku agar menjadi pribadi yang terus belajar sabar, ikhlas, ramah dan menyenangkan.

Saking ingin optimal dalam ber-ramah tamah ria, pada peserta yang tidak tahu tempat kuliah kepenulisan saya berkata,
“Teteh udah sampai mana? Sudah di salman belum?”
“Sudah. Dari kantin ke sebelah mana Teh?”
“Dari kentin ke bla..bla..bla..” saya menjelaskan rute dari kantin Salman ke gedung utsman.
“Wah saya bingung Teh sebelah mana ya? Nanya orang juga malah menyesatkan”
“Kalau begitu teteh tunggu aja deket kantin, biar saya jemput kesitu ya”
“Nggak usah Teh”
“Eh nggak apa-apa koq Teh, dari situ deket koq. Biar saya jemput saja, kasian tetehnya.”
“Saya laki-laki teh”

Lagi-lagi… GUBRAKKK!!!

Yah, begitulah sodara-sodara, di belakang berjalannya acara demi acara, selalu ada yang namanya contact person, sudah mulai terbayang kan apa saja yang dilakukan oleh seorang CP? Yang saya ceritakan di atas tidak lebih dari 25 persen saja dari keseluruhan pengalaman saya yang aneh-aneh. Asik ya! Hehe, apalagi ketika tiba saatnya acara di mulai pada hari H, para peserta biasanya mencari sesosok panitia yang selama ini berkomunikasi dengannya. Itulah dia sang contact person.


Salam manis dari Noki untuk semuanya.. ^_^


Suatu pagi,
6 Desember di kamar yang baru di-sapu.
Diiringi “11 Januari”-nya Gigi.

Jika Kau Bukan Jodohku

Untukmu yang berpacaran
Katakan ini pada kekasihmu

“Jika kita bukan jodoh
Melupakanmu, kewajibanku.
Bagaimana bisa memoriku tidak melekatkan namamu
Sedang dalam setiap jejak kehidupan yang kupijaki
Ada pula jejakmu
Bagaimana bisa aku melupakanmu
Sedang dalam setiap mimpiku
Kurangkai ia tuk mewujudkannya bersamamu
Takutku tak mereda saat kubayangkan
Bukan namamu yang Tuhan sandingkan dengan namaku
Dalam catatan-Nya.
Bantu aku
Akhiri ketakutanku
Dengan ikat pertalianmu denganku
Atau tinggalkanku.”

Ups, ralat:
“atau ku kan meninggalkanmu.”

Untuk Calon Pemimpinku



Calon pemimpinku, dan pemimpin ummat,
Melangkah bersamamu adalah sebuah keputusan besar, yang kuiringi dengan kesyukuran besar, dan kesadaran akan adanya konsekuensi besar yang harus kuhadapi.
Jika benar engkau adalah perantara, terimakasihku atas peluang ini yang menegaskanku bahwa kelak di sinilah Allah menetapkan peran jihadku.
Calon pemimpinku, yang juga pemimpin ummat,
Engkau tahu bahwa jihadnya seorang perempuan adalah di rumah. Ijinkan aku berbahagia karena kan mengemban tugas mulia.
Aku ingin tetap di rumah kita, bukan karena tak tergerak untuk menebar manfaat bagi ummat, tapi engkau dan keluarga kita, kelak, kuazzamkan tuk menjadi prioritas utama.
Untuk keluarga kita, aku ingin menjadi sosok yang kan selalu ada. Karena aku tahu, tugasmu kan begitu berat dan terbagi. Kan kuikhlaskan kau tuk menjadi sosok yang diperlukan ummat, dan peranku adalah sebagai penyokong dan pendukung, dengan doa-doaku, kesabaranku, tenagaku, waktuku, pikiranku, dan diriku, untuk mencukupkan segala yang engkau dan keluarga kita butuhkan.
Calon pemimpinku sang pemimpin ummat,
Seperti juga dirimu, pun seperti apa yang telah dimulakan oleh Ummul Mu’minin, akupun kan ada untuk ummat, tapi takkan pernah perhatianku terhadap ummat membuat kalian iri, merasa terabaikan atau dinomorduakan. Karena kita semua, satu keluarga, saling mendukung, yang masing-masing mampu menjadi pelaku sejarah gemilangnya peradaban Islam.
Aamiin ya rabbal alamiin…

Jongko nasi goreng, Tegalega
23 Oktober 2011
Dalam dua jam pergulatan pikiran
Tentang pemimpinku di masa yang akan datang

Kelabu


Ini pengalaman saya yang terjadi di sekitar kampus tercinta. Mungkin kawan-kawan lain ada yang pernah mengalami juga. Seorang bapak menghentikan langkah saya ketika hendak pergi ke warnet yang memang jauh dari kostan.
“Maaf neng, mau Tanya.” katanya
“Iya pak, mangga”
“Neng kalau kampung daun masih jauh dari sini gak ya?”
“Hmm… kurang tau ya pa.”
“Parompong, neng”
“Oh… iya masih jauh”
“Neng bisa tolong bapak tiga ribu?” sambungnya dengan wajah memelas.
“Oh maaf pak, saya sedang buru-buru” tolak saya sambil setengah berlari menjauhi bapak tersebut. Mungkin kesannya saya memang pelit, gak empati, tegaan, jahat, dan semua predikat negatif lain deh!
Sebenarnya saya yakin bapak tersebut bukan orang yang jahat dalam artian penculik yang akan menjual saya ke singapura. Saya bersikap seperti tu (pelit, judes, dll) semata karena kalimat pertanyaan yang saya dengar dan sosok seorang bapak yang saya lihat hari ini sama persis dengan apa yang saya dengar dan saya lihat ketika semester 3.
“neng, kalo parompong masih jauh gak ya?” tanyanya kala itu.
“wah masih harus naik angkot satu kali lagi, pak.”
“oh gitu ya? Neng bias tolongin bapa gak? Bapak mau ke tempat sodara, uang bapak tinggal seribu lima ratus lagi. Kalau ada bapak boleh ditolongin tiga ribu rupiah saja neng?”
Hati siapa yang tidak terketuk, saya kira, ketika dihadapan kita jelas-jelas ada seorang musafir yang membutuhkan kita, dan keadaan kitapun sangat mampu untuk mengulurkan tangan untuknya. Saat itu, dalam pikiran saya, semoga bapak tersebut sampai di tempat sodaranya dengan selamat tanpa kekurangan ongkos lagi.
Itu kali pertama.
Kali kedua, bapak yang sama dengan kalimat yang sama saya temui lagi pada semester berikutnya. Dan hari ini, tepatnya tadi pagi adalah kali ketiga bapak itu “menyapa” saya. Heran saya, apa orang itu nggak ingat ya kalau saya pernah menjadi orang yang begitu percaya pada actingnya? Maaf pak, saya tidak akan tertipu lagi.
Bukan uang tiga ribu rupiah yang saya permasalahkan. Saya kira begitu juga pendapat teman-teman lain yang pernah mengalaminya.
Memang, dalam memberi sepatutnya kita tidak pilih-pilih, karena tentu kitapun tidak ingin Allah akan memperhitungkan dahulu amalan kita sebelum menganugerahkan nikmatnya. Lagi pula dengan meminta seperti itu, kita tahu benar bahwa peminta tersebut memang sedang membutuhkan. 
Tapi bagi saya, memberi bantuan pada orang seperti itu berarti membenarkan perilakunya, sedangkan kita mengerti bahwa menipu adalah perbuatan yang salah. Kita tidak mungkin bukan, membenarkan perilaku penipuan?
Sebenarnya, tadi pagi inginnya saya mengatakan secara prontal pada bapak itu bahwa saya sudah tahu niat buruknya. Inginnya juga saya bertanya tentang jumlah orang yang ia kelabui dalam satu hari, juga tentang penghasilan yang ia dapatkan setiap hari dari “pekerjaannya”, saya juga ingin bertanya tentang motifnya, berapa jumlah anaknya, jumlah istrinya, serta jumlah keperluan sehari-harinya yang membuatnya harus mengelabui setiap orang (mungkin mahasiswa) yang ia temui di jalan-jalan sepi.
Saya lihat bapak tersebut sehat-sehat saja. Jika dilihat dari fisik tentu saja. Karena secara psikis, orang seperti itu tidak bisa dikatakan sehat.  Secara psikologis orang seperti ini tidak memiliki semangat untuk bekerja secara layak. Mungkin minimnya lapangan pekerjaan serta tidak adanya keterampilan dapat dijadikan alasan. Ditambah lagi dengan “pekerjaan”nya yang sekarang ini ia merasa mendapatkan kepuasan secara materi, dengan hanya bermodalkan jalan-jalan di tempat yang sepi kemudian mengumbar keprihatinannya sebagai seorang musafir yang kehabisan bekal.
Apapun alasannya, yang salah tetaplah salah, bukan? Al-halaulu bayyinun wal haramu bayyinun. Yang halal itu jelas begitupun dengan yang haram. Saya hanya berharap bapak tersebut atau siapapun yang berperilaku demikian, dapat memutar jalan dengan mengikuti petunjuk dari kata hatinya. Jika saja orang tersebut (atau kita sekalipun) tidak mengetahui hukum dari suatu perkara, sesungguhnya kata hati kita akan mengatakan kebenarannya.

Ihdinaa shiraathol Mustaqiim
Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya mengetahui, tapi juga dapat mengamalkan segala perintah-Nya.

Superboy dan Icih (Part 1)


Iseng-iseng berhadiah. Ceritanya sekarang schedulenya saya ngerjain tugas-tugas kuliah yang super duper numpuk. Tapi karena kasihan sama otak kiri yang diporsir terus-menerus (meskipun sambil dengerin musik yang menggunakan otak kanan), tapi saya butuh refreshing. Akhirnya saya memutuskan break dulu ngerjain tugasnya 1 x 15 menit dengan menulis cerita ini.
Ini adalah dongeng menjelang tidur yang diceritakan oleh teman saya yang paling narsis sedunia. 
Judulnya “Superboy dan Icih”.
Dari judulnya saja sudah terbayang kalau si Superboy berasal dari Amerika sedangkan Icih dari pedalaman Garut Selatan (aduh… orang garut, afwan. Bukan maksud) ^^V
Dinamai Superboy, karena menurut cerita teman saya, tokoh ini adalah seorang pria super.  Saking supernya semua orang di dunia antah berantah mengenalnya. 
(di dunia nyata, saya cuman bisa manggut-manggut mendengar cerita dari teman saya ini. diiyakan saja biar cepet ah! Pikir saya)
Adalah Icih, seorang gadis biasa yang tidak pernah melewatkan momen-momen penting untuk ia abadikan dalam catatan hariannya. Mari kita intip beberapa tulisan Icih tentang kesehariannya.

April 2010
Duh, senengnya memasuki komunitas baru! Pengalaman baru, ilmu baru, teman baru, meski ya… seneng di sini tetep belum kugenggam sepenuhnya sih, masih perlu perjuangan! Harus bisa kenal lebih deket lagi sama orang-orang di komunitas ini, biar betah. Apalagi ini kan komunitas yang aku impi-impikan sejak dulu. Dan sekarang… setelah melewati beberapa proses penyaringan (emang minyak!) akhirnya aku keterima juga jadi bagian dari kelompok mereka. Kelompok orang-orang yang punya hobi sama denganku.
Ternyata komunitas ini banyak juga ya peminatnya! Secara, udah terkenal banget kayaknya. Yang membuatku agak heran, koq kayaknya orang-orang di sini pada pendiem semua ya? Kesannya mereka itu diam-diam menghanyutkan! Terus terang buat aku ini menuntut banget buat bisa beradaptasi. Aku yang biasanya riweuh dihadapkan pada kondisi yang mengharuskanku rada menjaga sikap biar gak kelihatan mencolok karena rame sendiri. 
Eh eh eh, tunggu bentar, ternyata ada deng yang agak mencolok, dan ternyata bener kan… seorang temen perempuan yang mencolok ini mendapat tatapan yang berbeda dari temen-temen lainnya, entah itu tatapan positif atau negatif, yang jelas, tatapan negatifnyalah yang membuatku berpikir ulang untuk bersikap ekspresif di awal pertemuan seperti dia. 

Dan waw, ternyata bukan si teman yang ini saja yang menurutku sikapnya agak mencolok. Ada seorang lagi, dan itu seorang pria! Dari caranya memperkenalkan diri, entah kenapa aku merasa dapat menangkap gelagat narsis dan agak sombong pada si pria. Masih terbayang bagaimana pria yang katanya bernama Boy itu memperkenalkan diri seraya menyebutkan aktivitasnya yang katanya padat. Huh, sombong! Pikirku saat itu. Aku yakin koq di sini bukan cuma dia yang punya kegiatan bejibun. Aku juga! Kuliah, berorganisasi, ngajar, ngelola training center, berwirausaha, nyuci, nyetrika, beres-beres, hehe.. jadi sebenarnya aku juga sombong ya? Ups, piss ah!
Sebenernya yang ngebuat aku agak ilfil ngeliat si Boy ini adalah ketika aku melontarkan sebuah pertanyaan padanya.
“Hmm… mister, pernah berguru di negeri sebrang nggak? Kayaknya saya pernah liat mister, saya berguru di sana juga soalnya” kata saya jujur sambil nginget-nginget peristiwa masa lalu di negeri sebrang.
“Iya, saya pernah di sana. Oh kamu dari sana juga ya? Tapi saya nggak kenal!”
Gubrak!!!
Dia berlaga seolah dia adalah manusia super yang dikenal bayak orang, sedangkan aku hanya Cinderella cantik (hehe, kebagusan) yang sama sekali tidak dikenalnya. Huh! Sejak saat itu resmilah dia kuanugerahi predikat “sombong” di keningnya (lho?)
$$$
Itulah momen pertama yang mempertemukan Boy dan Icih, sodara-sodara. Kesan pertama yang buruk mengenai Boy melekat dalam pikiran Icih. Hanya sekejap saja. Karena untuk kemudian Icih sudah lupa lagi mengenai peistiwa itu, apalagi ketika memang sudah cukup lama dia tidak penah bertemu lagi dengan Boy.
Tapi sejarah membuktikan bahwa di masa depan mereka akan bertemu lagi. Dengan cara yang mungkin tidak pernah disangka oleh keduanya.

Gaul sama Ibu-ibu

Di sini saya ingin mengakui bahwa saya adalah orang yang nggak gaul. Nggak gaul –yang menurut saya- dalam arti yang sebenarnya. Bayangkan saja, nama tetangga sebelah rumah saja saya tidak tahu. Meskipun sebagian besar dari mereka umumnya mengenali saya (huh, narsis). Tapi begitulah, masa kecil saya dihabiskan dalam sangkar emas. Dikurung di dalam rumah dengan alasan pergaulan lingkungan sekitar kurang sehat untuk tumbuh kembang saya. Saya masih ingat bagaimana mamah melarang saya main karena bahasa teman-teman sebaya saya yang seringkali nyeletuk menyebut nama binatang. Sekolahpun, sengaja mamah menempatkan ke sekolah yang tempatnya jauh, yang beliau rasa kualitasnya lebih baik dibandingkan sekolah dasar dekat rumah. Jadilah saya anak asing di kampung sendiri dengan teman tara-rata anak kampung lain.

Maaf kalau saya jadi bernostalgia ria, pengalaman ini saya ungkapkan karena tiada lain semuanya menjadi sangat berkaitan dengan kehidupan saya selanjutnya.

Baiklah, itu sekilas mengenai lingkup pergaulan saya di rumah, dengan ruang yang begitu sempit. Karenanya, di usia saya yang sudah berkepala dua ini, saya semakin menyadari pentingnya bersosialisasi. Terlebih selama tinggal di asrama pesantren, maupun di kostan setelah memasuki bangku kuliah, saya sangat senang berteman dengan banyak orang. Memasuki berbagai komunitas untuk memperluas pergaulan. Namun ada yang saya lupakan: kampung saya. Ya, sebelum hari ini, saya tidak mengenal lebih dekat seorangpun tetangga saya.

Untuk memperbaiki kesalahan itu, ramadhan ini saya bermaksud untuk mengeksiskan diri di lingkungan sendiri. Mumpung libur panjang.

Hari pertama ramadhan saya memberanikan diri ikut tadarus Quran ibu-ibu di mesjid besar kampung. Saya menyadari betapa beberapa ibu memerhatikan saya sambil mungkin bertanya-tanya dalam hati. “Siapa ya?” “Anaknya siapa?” “Koq cantik amat ya?” hehe… becanda ah!

Hal itu saya ketahui karena benar saja, setelah acara pengajian usai, dan saya menyalami beliau-beliau satu-satu, banyak sekali pertanyaan yang mereka lontarkan. Mulai dari nama, sekolah di mana, semester berapa, belajar ngaji di mana, sekarang tinggal di mana, SEDANG LIBUR berapa lama, dan…. Sudah punya calon apa belum? Hihi…. Antusias sekali para ibu itu. Maklum, ada anak gadis nyasar ke pengajian ibu-ibu yang rata-rata sudah beranak cucu.

Namun ada satu pertanyaan yang membuat saya sangat terkesan dan merasa senang. Kurang lebih bunyi pertanyaannya seperti ini
“Nenk, kersa teu mantosan ibu ngajar PAUD?” katanya dengan berbahasa sunda yang baik dan benar dan sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.

Selidik punya selidik, setelah bertanya pada mamah, ternyata ibu tersebut di kampung ini adalah pendatang. Bu Nur saya menyebutnya.

Bu Nur tinggal di  kampung ini semenjak menikah dengan salah satu pemuda kampung ini yang tiada lain adalah tetangga saya. Yang membuat saya terkagum, meskipun beliau bukan asli orang sini, beliau mampu menghidupkan mesjid dengan berbagai aktivitas keagamaan yang beliau rintis sendiri, mulai dari pengajian ibu-ibu, tahsin Quran, tadarus Quran, juga madrasah diniyah hingga PAUD untuk anak-anak.

Saya belum begitu tahu proses yang beliau lalui dalam sepak terjangnya selama ini. hanya saja dari kabar yang saya dengar lagi-lagi dari mamah, beliau, dengan segala program barunya dapat diterima masyarakat karena sifatnya yang baik budi, ramah, dan pandai membawa diri.

Sekilas saja tentang Bu Nur. Dari cerita tentang beliau yang inspiratif ini, saya teringat akan mimpi saya untuk berkontribusi lebih dalam dunia pendidikan. Bukan hanya sebatas menjadi mahasiswa yang berarti terlibat dalam proses transferensi pendidikan, tapi juga saya berharap untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan menjadi guru yang ideal, serta saya sangat berharap agar dapat mendirikan sebuah lembaga pendidikan islami yang berkualitas dan gratis.
Untuk menggapai mimpi tersebut, ibaratnya tentu tidak bisa langsung meraih puncak tertinggi tanpa mendaki bukit-bukit kecil yang tersusun dibawahnya. Karenanya, bukit pertama yang harus saya taklukan adalah dengan menjadi guru.

Dengan turun langsung ke lapangan untuk mengajar, saya bisa mendapatkan pemahaman dan tentu pengalaman yang belum saya dapatkan dibangku kuliah. Maklum belum KKN.

Kendalanya selama ini adalah, cukup sulit bagi saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar di sekolah, karena program studi yang saya ambil di kampus bukanlah program studi mata pelajaran, melainkan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yang tidak diajarkan di bangku sekolah.

Sempat mendapatkan tawaran untuk mengajar TK, namun yang menjadi kendala adalah waktu. Jadwal sekolah anak TK tentu pagi-pagi, sedangkan jadwal kuliah sayapun sama: selalu pagi.

Sempat juga mengajar bahasa arab di salah satu tempat kursus di Cimahi. Namun karena peminatnya tak sebanyak bahasa inggris hingga akhirnya siswa yang tersisa hanya 2 orang, lembaga kursus memutuskan untuk menutup kelas bahasa arab.

begitulah, sejak saat itu saya selalu berharap untuk dapat mengajar apapun di manapun sesuai kompetensi yang saya miliki, akan tetapi semuanya urung ketika berkaitan dengan kesepakatan jadwal mengajar.

Sampai hari ini, ketika saya mencari kegiatan kesana-kemari untuk mengisi liburan panjang selama ramadhan, tawaran itu datang. Saya memiliki peluang besar untuk mengaplikasikan pengetahuan saya dengan mengajar PAUD!
Ditambah lagi saya suka anak-anak. (mungkin karena saya ‘katanya’ kekanak-kanakan, hehe)

Dalam jangka waktu sepersekian detik, dengan tanpa berpikir panjang, sambil melontarkan senyum termanis yang saya miliki, pun sambil bersyukur dalam hati, mantap saya menjawab,
“Mangga Bu, insya Allah tiasa. Kaleresan nuju milari kegiatan salami liburan.”

Sepulang pengajian hari pertama ramadhan itu, dalam perjalanan menuju rumah, saya sibuk menerka, hikmah dibalik apakah ini?

Mungkin hikmah silaturahmi. Mungkin juga hikmah memakmurkan mesjid, atau hikmah dari…. ah! Tak perlu menghitung nikmat Allah atau menebak alasan Allah memberi kita kebahagiaan. Allah maha segalanya dan itu cukup menjadi alasan.
Sungguh, buih di lautanpun takkan mampu menganalogikan segala nikmat yang begitu mudah Ia beri secara cuma-cuma. Gratis!

Sedangkan hikmah tersendiri bagi saya pribadi adalah untuk tidak ragu mencoba hal-hal baru, selama itu baik. Karena keberanian untuk mengantongi rasa malu untuk eksis di lingkungan rumah itulah, akhirnya saat ini saya berani mengatakan bahwa saya bukan orang yang nggak gaul lagi. Kenalan saya di sekitar rumah sekarang banyak: ibu-ibu semua!




Awal ramadhan,
Ngetik sambil ngabuburit
Diiringi ‘For The Rest of My Life’nya Maher Zein.

Diorama Sepasang Pemimpi(n)


Karena saya dari universitas pendidikan dan kita sama-sama peduli terhadap pendidikan, maka kita akan mendirikan sebuah lembaga pendidikan.
Karena anda dari universitas islam dan kita sama-sama sangat mencintai Islam maka segala hal termasuk lembaga pendidikan yang kita rintis, berbasis Islam
Karena anda dari jurusan komunikasi dan saya sangat menggemari ilmu komunikasi, maka kita akan merintis sebuah radio
Karena saya dari jurusan psikologi dan anda menghendaki saya untuk tetap di rumah, maka saya akan membuka praktek konseling di rumah
Karena saya dan anda sama-sama gemar membaca maka kita akan membangun sebuah perpustakaan dan mengajak seluruh dunia untuk membaca
Karena saya dan anda sama-sama gemar menulis maka kita akan tetap menulis. Tentang islam, tentang pendidikan, tentang psikologi, tentang komunikasi dan tentang keluarga islami
Karena itulah kita. Sepasang insan yang berusaha untuk membangun gedung kokoh bernama keluarga islami. semoga tak sekedar bermimpi.

Juni 2011
Mudah-mudahan tidak lebayatun jiddan!

Rainy Earth and Rainy Heart

Teruntuk sejuknya hujan…

Yang iringiku menyongsong hangatnya mentari pagi
Yang memompa semangatku di bawah terik surya siang hari
Dan lengkapi damainya senja saat ia tenggelam terkubur bumi
Terimakasih dari hati

Hanya bisa menyungging senyum sederhana
Senyum yang lebih bermakna
Dari setiap untaian kata
Maka…
Urung kukirimkan bahasa
Cukup senyum saja
Pertanda kupun bahagia.

Kelak, kala jarak menghantarkan kerinduan
Mimpi itu takkan lepas dari genggaman
Ku ikhlaskan jasadmu tuk gapai angan
Karena meski sendirian
Menanti setiap perputaran zaman
Kupastikan asma-Nya sebagai pegangan
Hingga kau kembali berbekal peran
Tuk kudampingi bangun peradaban.

Rabbi zidnaa ilman
Warzuqnaa fahman




Rainy earth and rainy heart
19 Juni 2011

Session 1

Hujan tak juga reda. Aku benci suasana seperti ini! Ini semakin membuatku melankolis saja. Dan kelihatan bodoh! Perasaan ini membuatku seakan tak berdaya, emosi memang subjektif, rasio bisa kalah olehnya. Ya, oleh cinta.
Aku tak pernah mengundangnya tuk hadir di hatiku. Jelas-jelas aku tahu betul bagaimana seharusnya perasaan ini di manage bila belum saatnya ia tiba. Aku orang berilmu, aku orang beragama. Selain hafal akupun faham betul ayat yang melarang mendekati zina. Pertanyaanku, apakah jatuh cinta itu mendekati zina?
“Cinta itu fitrah manusia, Shara.”
Ustadzah Sari saja berkata begitu. Orang yang pemahaman keagamaannya jauh di atas aku menganggap bahwa jatuh cinta itu adalah hal yang wajar. Silakan berkata “Cinta itu fitrah tapi kita jangan menodai kefitrahannya dengan dengan perbuatan atau hubungan yang sama ekali tidak pernah dicontohkan dalam Islam. Pacaran.”
Tidak perlu menesehatiku atau menguatkan pendapatmu dengan dalil-dalil Al-Quran atau Hadits yang melarang kita, umat Islam untuk berpacaran, karena dalil-dalil itu adalah makananku sejak kecil. Tempat ini telah membentukku sebagai anak ABG, hingga kini sebagai remaja yang hidup berasaskan Quran dan Sunnah. Camkan ucapanku, bukankah mengaplikasikan suatu teori itu jauh lebih sulit dari sekedar mengetahuinya? Tolonglah aku, ini pertamakalinya bagiku, aku jatuh cinta… aku jatuh cinta. Apa yang harus kulakukan?
“Perbaiki shalat malammu, Shara”
Aku turuti nasihat Via, sahabatku. Sebelum tidur aku memasang alarm di angka 02:00. Pukul 22:00 aku memejamkan mata, hingga pulul 24:00 aku masih terjaga. Aku gusar. Hatiku risau. Setiap benda apapun yang kulihat nampak seperti sesosok wajah yang begitu aku kenal, membuatku tersenyum sendiri kala menatapnya. Kemudian aku berharap sosok itu benar-benar nyata hadir untuk mengobati rindu. Penyakit yang baru-baru ini kuketahui bahwa rasanya benar-benar menghujam jantung. Sakit!
@@@
“Ana mencintai antum karena Allah, Akhi…”
Tuturku terbata-bata. Malu, tapi aku tidak mampu menahan lagi untuk tidak mengatakannya. Yang kupanggil dengan sebutan akhi itu tertunduk. Wajahnya mengkerut. Mungkin bingung, atau mungkin juga dia sedang berharap bahwa ini hanyalah mimpi.
Mungkin ini yang dinamakan orang dengan salah tingkah. Karena sekarang akupun jadi tak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya. Diam-diam aku jadi menyesal, andai saja ucapanku barusan bisa ditarik kembali !  ikhwan dihadapanku inipun hanya diam. Duh, kenapa diam saja? Katakanlah sesuatu, ya atau tidak. Dijawab dengan potongan lagu ‘Nantikanku dibatas waktu’nya Edcoustic-pun tak apa. Tapi jangan diamkan aku! Rasa-rasanya aku tidak pernah semalu ini. Apa sebaiknya aku pergi saja daripada tak kuat menahan malu. Atau, aku ralat saja ucapanku tadi. Ya, benar. Aku ralat saja. Sekarang aku hanya tinggal katakan bahwa tadi aku sedang bercanda. Ya, ini aprilmop. Meskipun ini bukan tanggal satu tapi hari ini aku ingin memberlakukannya… huh, konyol memang.
“…jadi jangan diambil hati ya, maaf sudah membuat bingung.”
Ah, lega rasanya bisa mengatakan itu. Walaupun itu artinya aku harus memendam cinta ini lebih lama lagi. Tapi koq, dia masih kelihatan bingung?
“Lho, kenapa masih bingung? Ana kan sudah bilang kalau ana hanya bercanda.”
“Gimana aku nggak bingung, nggak biasanya kamu susah dibagunin kayak gini. Ayolah Shara, kita semua sudah shalat shubuh.. kamu masbuq tauk!”
“Bangun, masbuq? Maksud antum apa sih, Fathah?”
“Hah, hah… fat? Owh… Fathah? Hahaha…”
“Aduh, kepalaku pusing” keluhku. Sekelilingku tampak gelap.
“Ya gimana nggak pusing, orang bangun tahajjud kamu tidur. Orang shalat shubuh kamu masih tidur juga. Jadi gara-gara mimpiin Fathah tho?”
Ledekan lainnya menyusul. Ramai sekali. Bahkan ada yang tertawa terbahak-bahak. Picingan mataku melebar. Semuanya sudah terlihat jelas. Ada Ayuni, teman sekelasku. Di belakang Ayuni aku menangkap wajah Salma, Hilda dan Senja. Mereka adik kelas-adik kelas yang sudah delapan bulan sekamar denganku.
“Deu… Teh Shara, jadi teteh naksir Kang Fathah ya?”
Aku ingat sekarang, jadi tadi itu hanya mimpi. Dan aku mengingau, aku menyebut-nyebut nama Fathah. Apa yang sudah kulakukan? Sebagai santri tertua seharusnya aku menjadi uswah bagi adik-adik kelasku. Bukannya malah mengekspos perasaan yang tidak halal ini! Astaghfirullah...

KM Terdahsyat Tahun Ini


Eh belum pamit deng sodara-sodara. Masih ada dua orang lagi neeh… jangan beranjak dulu okeh? Ini gilirannya nyeritain Pak KM yang ngakunya KM terdahsyat tahun ini. Abis dia nanya terus sih.
“via aku kapan?”
“via aku koq nggak ada terus sih, pokoknya buat besok harus ada akunya ya”
“via koq aku Cuma disorot di intronya doank sih”
Yeee… kan emang sengaja. Di episode yang kemaren kan kamu jadi piguran. Hehe. Tapi sip lah… sekarang pak KM dengan nama lengkap Candra Ari Ramdhanu ini jadi salah satu artisnya.
Mmh… mulai dari mana ya?
Dari statement “Candra bertanggung jawab” aja deh. Aku yakin nggak akan ada yang protes kalau aku berpendapat seperti itu. Dia tahu betul perannya dalam organisasi kecil namun kompleks dalam segala hal seperti kelas B. Padahal sebelum dia mengemban amanah sebagai ketua kelas, aku tak pernah menyangka kalau dia akan menjadi KM selanjutnya yang menggantikan Bayu. Pasalnya tidak ada tanda-tanda dia “gemar” menjadi pemimpin, dia orangnya tidak suka mendominasi, tidak suka mengomando, cenderung tertutup, tidak memprovokasi seperti KM sebelumnya (hehe, ampun Bayu!), ya pokoknya… gitu deh. Sepertinya Candra cinta damai dan lebih suka mengalah dari pada memicu konflik yang lebih gawat. Candra juga terlihat datar-datar saja, tidak neko-neko, stabil, dan satu lagi… nggak pernah marah. Ya, dia tidak bisa marah. Tapi orang seperti itu biasanya kalau emosinya sudah meledak akan membuat orang terbirit-birit ketakutan kayak lihat monster ngamuk.
Sebagai calon konselor (amin…), aku tahu candra perlu banyak belajar dan beradaptasi dengan peran baru-nya, yang menuntut dia berubah menjadi seseorang yang punya andil besar dalam team. Candra pernah dikritik pedas oleh temanku, si mahasiswa terkritis seantero PPB, kalau candra itu kurang berkarisma, kurang tegas, dan kurang-kurang lainnya. Reaksi si KM asal Cirebon ini hanya mendengarkan dan mengangguk-angguk tanda mengerti. Lalu dia bilang.
“ya, terimakasih atas masukannya”
Padahal aku tahu bagaimana rasanya dikritik seperti itu di hadapan banyak orang, sedangkan posisi dia adalah sebagai “pejabat tertinggi”.
Dan keesokan harinya, aku melihat candra lebih dapat mengendalikan anak-anak seisi kelas dangan beragam karakter dan bermacam keinginan. Dia juga jadi lebih tegas,  lebih karismatik juga? Mmh… yang ini mah nanti duluuu… harus mikir seribu kali untuk bilang “iya”. Hahaha. Intinya, selama ini candra sudah banyak belajar dan berkembang ke arah yang lebih baik. Bukankan ilmu itu didapat dari balajar? Seperti dinyatakan dalam sebuah hadits shohih, “innama al-ilmu bi ta’allumi”.
Sebagai teman juga candra itu baik hati dan tidak sombong, rajin menabung tapi tidak rajin membaca. Dari sini aku jadi menyimpulkan dan punya pandangan stereotip bahwa orang jawa itu baik-baik. Contoh lainnya adalah alfian yang orang Cirebon dan Caesar yang orang cilacap. Hmmm… aku mau sama orang jawa aja ah. Maksudnya mau cari teman orang jawa yang lebih banyak lagi, gitu.