Si Sunda Tulen, Idha


Ketika hendak melanjutkan “How Unique My Class” untuk sesi ke-2, aku bingung. Bukan bingung dengan apa yang akan ditulis, tapi bingung… siapa yang untuk saat ini akan aku ceritakan lebih dulu. Tapi setelah dipikir-pikir selama lima detik, akhirnya aku memutuskan bahwa sekarang aku akan memaparkan keunikan dari salah satu teman terbaikku yang bernama Khilda Nur Azizah.
Orang-orang memanggilnya Idha. Sedangkan yang bukan orang manggil dia... (yang bukan orang?). Ada juga yang manggil dia:
”ijaaaah......”
Kalo udah gitu Ijah pasti langsung menyahut,
”Iya nyaaaaak...”
Si Enyak menimpali,
”Jangan gila donk!”
Ups, itu mah lagunya Ijah Gunawan. Eh, Ivan Gunawan.
Tapi aku sendiri lebih senang manggil dia Idun. Bagi yang mau ikutan boleh-boleh saja, mari kita bersama-sama memberdayakan panggilan Idun untuk Khilda. Haha
Sejenak lupakanlah masalah panggilan yang paling cocok untuk Idun. Yang terpenting untuk kita bahas saat ini adalah: Who Is Idha?
Menurut kamus bahasa PPB, idha adalah Bandar gorengan (piss Idun, Idun cantik deh!). Tapi idha juga BBB: Bukan Bandar Biasa. Yang luar biasa dari Bandar yang satu ini adalah, dia merupakan Bandar yang selalu bersemangat. Idha berkoar-koar dengan senyumnya yang selalu mengembang untuk mengundang para pelanggan.
”Teh ia..... ieu aya pisang” kata idha suatu hari pada Mulya, sang penggemar pisang goreng keju.
Atau, ”Ngangge cengek teu?” kalimat yang sangat sering Idha lontarkan pada pembeli martabak atau karoket. Kalimat lainnya adalah,

 ”Pionk.... jajan!” yang dimaksud dengan Pionk adalah Silvia Fujiyastuti.


Jika diperhatikan, kalimat-kalimat yang diucapkan Idha selalu berbahasa Sunda. Neneng asal Soreang ini memang Sunda tulen. Tak jarang dia ”kaceletot” menggunakan bahasa Sunda ketika presentasi di depan kelas. Meskipun begitu, jangan anggap Sunda tulen adalah predikat yang negatif untuk Khilda. Karena dengan kesunda-sundaannya, Idha telah berhasil menjadi mojang Bandung yang ramah selayaknya ciri orang Sunda.
Betapa bangganya aku bisa berteman dengan seorang Idha. Idha yang ramah, baik hati, rajin menabung untuk biaya nikah (ups!), sholehah (meskipun agak mother Complex, hehe), centil dan pekerja keras.
Doa: ya Allah... semoga dengan mengekspos kebaikan-kebaikannya Idha ngasih karoket gratis! Amiin...
 

The Masculin Girl from Banten

Hai, namaku Silvia (ups, udah tahu ya?). Baiklah, to the point saja. Ada suatu energi yang memaksaku untuk menulis tentang ini. Energi itu adalah kebahagiaan dan rasa syukur. Ketika duduk terdiam selama beberapa menit di ruang kelas yang pengap dengan lima puluh orang di dalamnya, sejenak aku berpikir dan menelusuri, apakah yang setiap hari membuatku tersenyum bahkan tertawa dengan lepasnya?
Satu saja yang kurasa sumber dari kebahagiannku: Kalian! Ya, kalian. Teman-teman jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan angkatan 2009  kelas B dengan berbagai karakteristiknya yang uniik.
Lihatlah seorang teman yang saat ini (dan seringkali) duduk di sebelahku ketika kuliah. Dialah Niken Dwi Cahyani. Gadis berkerudung lebar asal Serang Banten. Tidak seperti gadis berkerudung lebar (baca: Akhwat) lainnya, temanku yang satu ini  nggak ada anggun-anggunnya! Boro-boro mikir buat jadi anggun, yang ada di pikirannya cuma Agung kali! Hahaha… piss Nikun! Bukan maksudku menjelek-jelekkan dirimu, karena kejelekkanmu yang satu itu masih bisa tertutupi dengan kelebihan-kelebihan kamu. Kamu tahu? (ya… lu pasti tau da lu mah narsis!) kamu bisa buat orang lain iri dengan kecerdasan kamu. Its ok, sebenarnya kita, mahasiswa PPB adalah orang-orang yang cerdas. Hanya saja bedanya kamu bisa membuat orang lain tahu tentang isi otakmu karena kamu menyampaikannya dengan baik, yeah… bahasa verbal yang baik, lantang , lugas, dan yakin (meski belum tentu benar, hahaha). Hah, pokoknya yang namanya Niken itu unik deh!
Entah karena faktor hereditas atau lingkungan, dia tumbuh sebagai muslimah dengan karakter kuat. Koleris abis! Tahukan koleris? Optimis, leadership, bereaksi negative dan penuh inisiatif. Ya, itulah Niken.
Pada suatu hari, Niken merasakan perasaan aneh berkecamuk dalam dadanya. Dia jatuh cinta (suit suiitt…!). Perasaan ini membuatnya merasa harus meng-sms pujaan hatinya. Satu detik, dua detik, satu menit, dua menit, satu jam, satu hari, sms tak kunjung dibalas. Niken menunggu dengan harap-harap cemas. Sampai pada akhirnya ringtone hp-nya berbunyi dan dia melihat satu nama di layar hp-nya: nama si dia. Bukannya ngebuka tu sms, Niken malah jingkrak-jingkrakkan gak karuan. Ckckck… cepat minum obatmu, sayang.  
Di suatu hari yang lain Niken yang nggak feminim pernah bertanya, “Ada gak sih cowok yang suka sama cewek yang gak feminim?”
Spontan aku menjawab, “Ya ada, lah…” 
Wahai siapapun kamu, cowok yang suka sama cewek maskulin, katakanlah pada Niken bahwa kamu adalah buktinya! 
Hehe ^^

Renungan Sejenak tentang Poligami

Rabbi… bahkan ulama sekaliber XXXXX-pun bercerai…
Tokoh besar Islam lain, XXXXX… bercerai kembali dengan salah satu istrinya setelah “mencoba” berpoligami…
Bukan ingin tahu masalah mereka, tapi…
Apakah yang menjadi permasalahan intinya?
Apa ini masalah cinta yang sudah mulai pudar…
Atau pertanda kelemahan hati dalam menghadapi kondisi diri sebagai seorang istri yang diduakan?
Atau karena adanya suatu tanggung jawab yang tidak tertunaikan?
Yang kufahami… pernikahan itu bukan permasalahan cinta, tapi tanggung jawab. Hal apakah yang membuat orang-orang yang faham agama sekalipun, bercerai dan memutuskan untuk melepaskan tanggung jawab itu?

Rasa tidak mampu kah?
atau ada faktor lain yang berkaitan dengan kebahagiaan?
Lantas, cukupkah bahagia manjadi alasan sepasang suami istri untuk tetap mempertahankan bahtera mereka… lalu berpisah dengan alasan tidak adanya kebahagiaan itu?
Tadinya kupikir, jika agama adalah alasan terkuat yang menuntun kita memilih seseorang sebagai pasangan hidup… tak akan ada alasan yang membuat  keduanya dapat terpisahkan, kecuali… agama itulah alasannya.
Tadinya kupikir, jika agama adalah alasan terkuat yang membuat kita memilih seseorang sebagai pasangan hidup… maka seluruh piranti pernikahan sudah terangkum di dalamnya. Baik itu tanggung jawab, kesetiaan, kepemimpinan… semuanya.

Ah,
Mungkin sejauh apapun aku menebak alasan apa yang membuat suatu bahtera rumah tangga retak, tak akan kudapat jawabannya karena aku belum belum menyelaminya.

Tapi Rabbi…
Jika selama ini aku begitu senang bersenda gurau dengan  ungkapan-ungkapan bahwa aku sudah ingin menikah…  sekarang  tidak lagi.
Sepertinya itu bukanlah ungkapan yang tepat.
Mungkin lebih bijak jika dirubah menjadi…
Aku siap menikah.
Aku siap mengemban tanggung jawab
tanggung jawab sebagai pasangan hidup seseorang dengan segala tugasnya…
tanggung jawab sebagai menantu seseorang dengan segala tugasnya…
tanggung jawab sebagai bagian baru dalam sebuah keluarga besar yang asing, dengan segala tugas dan tradisinya…
tangung jawab sebagai anak yang meskipun telah menikah, namun tidak mengurangi bakti pada orang tua…
tanggung jawab sebagai orang tua yang mampu mendidik putra putrinya sebagai generasi qurani…
serta siap menjalani hari-hari dalam bingkai pernikahan yang –katanya- tidak selamanya indah…

biarlah, itu adalah sebuah fitrah.
Untuk saat ini, sebelum masa itu datang, tentu aku harus mempersiapkan segalanya, mengembangkan diri dalam berbagai kompetensi yang kelak harus dikuasai.
Dan mempersiapkan diri untuk memilih (atau dipilih?)
memilih siapapun dia yang bukan hanya mencintaiku, tapi mampu bertanggung jawab atasku,
siapapun dia yang bukan hanya mampu menjagaku, tapi juga menjaga hatiku
siapun dia yang akan selalu kubutuhkan, juga membutuhkanku sebagai peneguhnya.
siapapun dia yang mampu membuatku merasa (dan harus) seperi Aisyah di samping Muhammad…
dan seperti Fathimah di samping Ali
hanya Fathimah disamping Ali

Tentang Kesamaan


22 maret, lagi.

Kata orang, kata buku, dan kataku sendiri…
Menikah itu berangkat dari kesamaan. Dan pernikahan di jalan Allah menggunakan rumusan seperti ini:
saya mencintai Allah
Kamu mencintai Allah
Dan kita menikah karena sama-sama mencintai Allah…

Kupikir, dan semoga…
Itu telah ada dalam diri kita, bahkan menjadi landasan utama.
Tapi aku menemukan kesamaan lain antara kita,
Kita sama-sama ingin menjadi penulis
Kita sama-sama kritis
Kita sama-sama perfeksionis
Dan kita sama-sama PERSIS

Kita sama-sama komunikatif
Kita sama-sama kompetitif
Dan kita sama-sama prestatif

Kita sama-sama visioner
Kita sama-sama musical
Kita sama-sama santri
Kita suka berdiskusi
Kita suka membaca
Kita penggiat perubahan
Dan kita… sama-sama narsis ^_^

Kita…

(bisakah kau sebutkan kesamaan lainnya?)

Semakin hari, semakin banyak kesamaan yang kutemukan dari diri kita
Meski ternyata tak kalah banyak perbedaannya…

Berangkat dari berbagai kesamaan itu, yakinku semakin bertambah
*****(disensor dari tulisan yang sebenarnya)… mungkin kaulah yang dikirim-Nya untuk kita melangkah bersama.

JAWAB TANYA RETORISKU


Cukupkah doa sebagai rantai yang mengikat ukhuwah kita?
Dengan pengandaian telepati tercakup di dalamnya
Jawab tanya retorisku, Aka…
Doamu tak pernah putus, katamu
Begitupun dengan aku, kata hatiku
Gunakah semua itu?
Tentu saja
(tak ada doa yang luput dari pengabulan-Nya)

Seberapa besar kekuatan doa itu?
Dapatkah ia mengubah takdir yang berlawanan dengannya?
Dapatkah ia mengalahkan keadaan yang tidak menuju ke arahnya?
Dapatkah?

Jika iya,
Maka kita hanya perlu berdoa
Tak perlu ada usaha
Jawab tanya retorisku, aka…
Bukankah kau takkan setuju?

Rinduku (tidak =) Pengganggu


Takkan kujadikan rinduku
Sebagai pengganggumu
Tak ingin aku, hadirku… hanya menambah pekerjaanmu
Atau membuatmu risau karena tak sempat perhatikanku

Di sini,
Aku bukan sekedar objek
Tapi juga pelaku
Yang kan buatmu semangat dalam aktivitasmu
Tersenyum dalam lelahmu
Dan membawa titik terang dalam permasalahanmu

Sekali lagi, takkan kujadikan rinduku sebagai pengganggumu
Inginku, dengan caraku…
Rinduku kan tersampaikan
Tanpa membuatmu layu
Tapi maju.

Rindu yang Tak Bisa Terobati

Baru kutahu, ternyata ada rindu
yang tak bisa terobati dengan bertemu
Rindu yang Tak bisa terobati dengan menelpon berjam-jan
Rindu yang tak bisa terobati dengan beribu caranya kala meyakinkanku
Rindu yang tak tak bisa terobati dengan berbagai harapan yang ia beri
Rindu yang tak bisa terobati dengan keyakinanku sekalipun tentang…. Semuanya.
Juga rindu yang tak bisa terobati dengan menggabungkan segala cara sekalipun…

Aku akan tetap rindu
Rasanya tetap rindu
Rindu yang tak berujung

Inilah rinduku
Rindu akan saat-saat dimana aku dan dia bisa selalu bertemu
Saat-saat dimana antara aku dan dia tak ada benang setipis apapun sebagai sekat
Saat-saat dimana aku dan dia berjuang bersama,
menghadapi lelahku dengan pundaknya,
Dan menghadapi lelahnya dengan dekapanku.

Rabbi…
Aku serahkan segalanya pada-Mu
Tentang rinduku
Kapanpun…
Dimanapun…
Dengan cara apapun…
Engkau hadirkan pengobat rindu itu

Meski bukan dengan dia sekalipun.




hmmm.... mengarang-ngarang ria,
entah inspirasi dari mana

OBAT RINDU

Aku menemukan obat lain dari rindu…
Selain bertemu.

Berwudhu.

Rindu…
Rasa yang begitu sederhana

Istimewanya…
Ia begitu menuntut.

Apa yang bisa kulakukan kala ia menyerang?
Selain hanya mengingat kembali tujuanku memupuk rasa itu,
Rasa berbumbu rindu sebagai pelengkapnya.

Dan tujuan itu berkata padaku…
”Bertemu bukan obat bagimu
Reduksi rasa itu,
Berwudhu,
Adukan pada Tuhanmu.
Ia akan mendengarmu
Mendengar bisikanmu bahwa kau hanya akan bertemu jika Tuhanmu mengizinkanmu.
Ia juga tahu rasa sakitmu menahan itu.

Satu yang perlu kau ingat,
Semakin kau Menahan
Semakin kau sakit
Semakin kan terasa indah pada waktunya”

Dan aku kan berkata pada tujuanku:
“Ingatkan aku selalu padamu
Agar aku merasa Tuhan selalu bersamaku
Ia tersenyum padaku karena ku tak menyalahi titah-Nya
Karena ku bertahan dalam sakit ini
Sendiri
Kemudian keluar sebagai pemenang”

Dan pada sudut lain aku berkata pada objek rinduku…
“Takkan kujadikan rindu sebagai pengganggumu
Aku merindukanmu karena ku tahu kau merindukan Tuhanmu
Karenanya…
Kelak
Jika Ia mengijinkan
Tatkala takkan ada lagi penghalang
Tatkala segalanya menjadi halal
Tatkala rinduku, rindumu, rindu kita… tak pernah kehabisan obat…

Kita pupuk rindu lain, bersama
Kita temukan obatnya bersama
Diawali berwudhu
Tawaddhu
Mengadu
Hingga di masa yang berbeda
Kita bisa menemuinya dalam syahdu.
Di mana hanya ada aku, kamu,
Dan Ia
Sebenar-benar objek rindu.”

Medio Januari.
Untuk objek rinduku,

-Aku dan kamu dalam genggaman-Nya-

"Ya" Atas Pertanyaanmu

Dua puluh tahun usiaku. Kamu tahu, aku sudah memikirkan apa yang akan kutulis ini sebelum angka usiaku genap tujuh belas. Ya, aku mulai memikirkannya, bahwa suatu saat jika aku memilih seorang pria untuk menjadi qawwamku, agama adalah syarat utamanya. Dan alasan ini pulalah yang dengan tegas menuntunku untuk memberikan jawaban “ya” atas pertanyaanmu.

Tahukah kamu hujanku… Allah-lah yang membisikkan quradatnya lewat isrtikharah-istikharahku, lewat perenungan panjangku, lewat doa-doa di sujud malamku, dan lewat keyakinan yang ia tancapkan dalam hatiku, bahwa ternyata memang namamulah yang Ia sandingkan dengan namaku dalam buku Qadla dan Qadar-Nya di Lauhul Mahfudz,  jauh sebelum Ia tiupkan ruh pada jasad kita.

Sebagaimana janji-Nya, Ia memasang-masangkan hamba-Nya dari jenis yang serupa, agar tumbuh pada mereka kecenderungan dan rasa nyaman. Doa itulah yang mengawali langkahku. Semoga benar engkau adalah bagian dari janji-Nya, semoga benar engkau adalah imam yang akan merangkulku tuk meraih cinta-Nya, dan semoga denganmu aku dapat semakin kuat untuk menjalani ketentuan-Nya, semakin sabar atas segala ujian-Nya, semakin bersyukur atas segala nikmat-Nya.

Ibarat kapal, bahtera kita akan berlayar di lautan luas. Ombak bahkan badai adakalanya kan menghadang. Genggam tanganku agar tak jatuh, temani aku agar tak tersesat jauh. Bersama kita jalani semua, bersama kita kita mengharap ridho-Nya.

Aku tahu, tak ada yang sempurna. Begitu juga dengan dirimu. Kelak, pasti akan kutemui  cacatmu. Tapi kembali kan kuingat sederet alasan yang membawaku padamu: agamamu, agamamu, dan agamamu. Itu sudah cukup untuk menawanku. 

Sungguh akupun tak sempurna, hujanku... 

Sederet alasan kau memilihku, belum tentu benar adanya. Kukatakan ini saat ini, aku tak ingin ada penyesalan di waktu yang terlambat. Balikkan badanmu jika kau rasa takkan mampu. Menjauhlah dariku jika kau takut ku kan kecewakanmu. Allah bersamaku, dienul Islam di hatiku. Pandang aku hanya sebatas itu. 






kala pikirku dan rasaku
tersenyum tanda "ya" untukmu

ah, entah pada siapa kan kulayangkan ungkapan itu.